Dari Mega Mendung ke Rupiah: Cara Wong Cerbon Merawat Rezeki dan Jati Diri

Dari Mega Mendung ke Rupiah: Cara Wong Cerbon Merawat Rezeki dan Jati Diri

RUPIAH. Ketika motif yang lekat dengan Mega Mendung hadir di Rupiah, sesungguhnya Cirebon ikut menyumbangkan identitasnya bagi Indonesia.--

*Oleh : Agus Umar Akmad (Asisten Penyelia Perkasan – Unit Implementasi Pengelolaan Uang Rupiah KPw Bank Indonesia Cirebon)

SETIAP tanggal 2 April, Kabupaten Cirebon memperingati hari jadinya. Usia yang telah melampaui lima abad bukan sekadar deretan angka, melainkan penanda panjang perjalanan sejarah, budaya, dan nilai-nilai yang membentuk watak masyarakatnya. Momentum hari jadi ini seharusnya menjadi ruang refleksi bersama sejauh mana jati diri masyarakat Cirebon masih hidup, tidak hanya dirayakan dalam seremoni, tetapi juga dihayati dalam keseharian warganya.

Cirebon sejak lama dikenal sebagai simpul peradaban, tempat bertemunya budaya, agama, dan jalur perdagangan. Identitas itu tercermin dalam banyak hal, salah satunya melalui motif Mega Mendung yang telah menjadi ikon budaya Cirebon. Bagi wong Cerbon, Mega Mendung bukan sekadar hiasan visual. Ia mengandung filosofi kesejukan, keseimbangan, dan kebijaksanaan dalam menghadapi kehidupan sesuai dengan nilai yang diwariskan para leluhur yang tetap relevan hingga hari ini.

Menariknya, nilai budaya tersebut tidak hanya hidup di ruang museum, batik, atau keraton. Ia hadir dalam bentuk yang jauh lebih dekat dengan keseharian kita yaitu dalam wujud lembar Rupiah pecahan Rp 50.000 tahun emisi 2016 dan 2022. Ornamen awan khas Nusantara yang kerap dikenali sebagai Mega Mendung tercetak jelas di dalamnya. Artinya, budaya Cirebon tidak berhenti sebagai identitas lokal, tetapi turut menjadi bagian dari simbol kebangsaan.

Di titik inilah kebanggaan sebagai warga Cirebon bertemu dengan kebanggaan sebagai warga negara Indonesia. Rupiah bukan sekadar alat transaksi, melainkan simbol kedaulatan negara dan pemersatu bangsa. Melalui desain dan motifnya, Rupiah merekam keberagaman serta kekayaan budaya Nusantara. Ketika motif yang lekat dengan Mega Mendung hadir di Rupiah, sesungguhnya Cirebon ikut menyumbangkan identitasnya bagi Indonesia.

Namun kebanggaan tidak cukup berhenti pada pengakuan simbolik. Ia perlu diwujudkan dalam sikap dan perilaku nyata. Inilah esensi gerakan Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah. Cinta Rupiah dimulai dari hal yang sederhana yaitu dengan memperlakukan uang secara hormat. Dalam keseharian, sikap ini tercermin melalui gerakan 5 Jangan yaitu jangan dilipat, jangan diremas, jangan dicoret, jangan di-stapler, dan jangan dibasahi.

Bagi sebagian orang, aturan ini mungkin terdengar sepele. Padahal, di situlah letak maknanya. Merawat Rupiah berarti menghormati simbol negara. Dalam konteks Cirebon, merawat Rupiah pecahan Rp 50.000 juga berarti menjaga representasi budaya sendiri. Ketika kita sembrono memperlakukannya, sejatinya kita sedang mengabaikan nilai yang selama ini kita banggakan.

Dalam tradisi masyarakat Cirebon, rezeki tidak sekadar dimaknai sebagai materi kekayaan berwujud, tetapi sebagai titipan yang harus dijaga. Ungkapan lokal “eman yen ora dijaga” kerap menjadi pengingat bahwa setiap rezeki yang datang dengan cara baik, harus diperlakukan dengan sikap yang baik pula. Nilai inilah yang relevan ketika kita berbicara tentang Rupiah yang ditafsirkan sebagai hasil dari kerja, usaha, dan doa yang kemudian hadir dalam bentuk nyata di tangan kita.

Pada peringatan Hari Jadi ke-544 tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Cirebon mengukuhkan istilah Kulanuun–Mangga sebagai simbol keramahan dan keterbukaan Cirebon. Kulanuun bukan sekadar ajakan mendekat atau ungkapan permisi, melainkan sikap menerima dengan kesadaran dan penghormatan. Mangga bukan hanya mempersilakan, tetapi juga isyarat tanggung jawab atas apa yang telah diterima. Dalam konteks Rupiah, filosofi ini menemukan maknanya yang paling sederhana sekaligus paling dalam, yaitu setelah rezeki kita terima, maka kewajiban kita adalah menjaganya.

Rezeki yang diperoleh melalui kerja keras, baik dari sawah, pasar, kantor, maupun usaha kecil, pada akhirnya bermuara pada Rupiah. Karena itu, merawat Rupiah sejatinya merupakan bagian dari menghormati proses mencari nafkah itu sendiri. Sayangnya, meremas, melipat, atau merusak uang kerap dilakukan tanpa disadari, padahal di sanalah Rupiah perlahan kehilangan nilai fisik sekaligus simboliknya. Dalam keseharian wong Cerbon dikenal ungkapan “yen nganggo ati, ya kudu diopeni”. Ungkapan tersebut memiliki arti jika sesuatu kita perlakukan dengan sepenuh hati, maka sudah semestinya ia dirawat dengan baik. Hal ini sangat relevan dengan cara merawat Rupiah.

Momentum Hari Jadi Kabupaten Cirebon menjadi saat yang tepat untuk meneguhkan kesadaran ini. Merayakan usia daerah bukan hanya soal melihat ke belakang, tetapi memastikan nilai-nilai kearifan lokal tetap hidup dalam perilaku masyarakat hari ini. Dari Kulanuun–Mangga, kita belajar bahwa menerima rezeki harus diiringi tanggung jawab. Dari Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah, kita belajar bahwa menghormati simbol negara bisa dimulai dari sikap paling sederhana.

Pada akhirnya, merayakan Hari Jadi Kabupaten Cirebon berarti menjaga apa yang menjadi ruhnya. Budaya tidak cukup dibanggakan, tetapi harus dirawat. Dari Mega Mendung hingga Rupiah, dari simbol hingga kebiasaan, semua saling terhubung. Kulanuun ditafsirkan dengan kita terima rezeki dengan rasa syukur. Mangga dipahami dengan kita jaga Rupiah dengan penuh kesadaran. Dengan cara inilah masyarakat Cirebon dapat terus mengkampanyekan dan mengimplementasikan Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sebagai wujud nyata kecintaan pada Cirebon dan Indonesia, dimulai dari hal yang paling dekat dengan genggaman tangan. (*)

*** Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan instansi/organisasi manapun.

 

Sumber: