Pasar Palimanan Sepi, Disperdagin: Penyebabnya, Pedagang Enggan Tempati Kios
Kabid Pasar Disperdagin (kiri), Teguh Mulyono menjelaskan pedagang enggan menempati kios dan perubahan perilaku konsumen penyebab pasar Palimanan sepi. ZEZEN ZAENUDIN ALI/RAKYAT CIREBON--
RAKYATCIREBON.DISWAY.ID — Sepinya aktivitas di Pasar Minggu Palimanan , Kabupaten Cirebon, tidak hanya dipicu faktor fisik bangunan. Tetapi juga perubahan perilaku konsumen yang lebih memilih berbelanja secara berani.
Kepala Bidang Pasar Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Cirebon, Teguh Mulyono, mengakui kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan pasar tradisional.
“Tren masyarakat saat ini lebih nyaman berbelanja online. Jadi pedagang juga harus bisa berinovasi agar tetap bertahan,” ujar Teguh, Rabu (29/4).
Menurutnya, desain pasar dua lantai yang diterapkan di Pasar Palimanan turut mempengaruhi tingkat kunjungan. Konsumen cenderung enggan naik ke lantai atas, terutama kalangan usia lanjut yang menjadi mayoritas pengunjung pasar rakyat.
“Pasar ini dibangun dua lantai. Salah satu kendalanya, enggan konsumen naik ke atas. Padahal dari sisi desain sudah diperhitungkan, aman dan ramah untuk semua usia,” jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi sepi tidak merata di seluruh area pasar. Aktivitas jual beli di bagian belakang masih tergolong normal, sementara area depan dan lantai atas relatif lengang.
"Palimanan itu yang terlihat sepi di depan saja. Di belakang sebenarnya masih normal," ujarnya, didampingi Analis Perdagangan, Nururip Wijaya.
Disperdagin, lanjut Teguh, telah menyediakan kios yang dinilai layak dan representatif. Namun, keengganan pedagang untuk menempati lokasi tertentu masih menjadi persoalan.
Untuk menarik minat masyarakat, berbagai upaya telah dilakukan. Mulai dari penyelenggaraan senam massal, kegiatan pelayanan pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB), hingga lomba mewarnai untuk anak-anak.
“Kita sudah coba hidupkan dengan berbagai kegiatan supaya masyarakat tahu ada aktivitas di pasar. Tapi memang hasilnya belum maksimal,” ujarnya.
Memang, untuk mendongkrak kunjungan sempat ada permintaan dari para pedagang. Minta bisa berjualan di bawah. Diperbolehkan, sampai akhir Ramadhan. Setelah berakhir, pedagang kembali diminta menempati kios di lantai atas.
Ternyata malah ditolak sebagian besar pedagang. “Setelah Ramadan, mereka enggan kembali ke atas. Ini jadi dilema bagi kami,” ungkap Teguh.
Padahal, desain dua lantai, sudah melewati berbagai kajian. Diantaranya, mengakomodir para pedagang yang terdampak. Pasalnya, bangunan pasar mundur 17 meter dari badan jalan.
Terkait kebocoran, Teguh mengakui masih adanya persoalan teknis kebocoran di beberapa kios. Itu telah dilakukan perbaikan.
“Memang ada kebocoran di kios nomor 62 dan 63, sudah kami perbaiki, tapi kemungkinan bocor lagi,” katanya.
Ia juga menyoroti hilangnya identitas Pasar Palimanan sebagai sentra toko emas. Jika sebelumnya terdapat sekitar 35 toko emas yang menjadi daya tarik utama, kini semuanya sudah tidak beroperasi.
“Dulu ikon Pasar Palimanan itu toko emas. Kalau bisa kembali, pasar bisa ramai lagi,” ujarnya.
Dari total 581 pedagang yang terdata, hanya 214 yang masih aktif berjualan. Sementara 367 lainnya memilih tutup. Ia membantah, kalau jumlah pedagang, hanya tinggal 20 orang.
Sepinya pasar Jamblang, diakui berdampak langsung pada penurunan pendapatan retribusi pasar. “Dari sisi retribusi jelas rugi. Potensi kerugian sekitar Rp500 ribu sampai Rp600 ribu per hari dari kondisi normal,” jelasnya.
BACA JUGA: Indocement Palimanan Gelar Penanaman Pohon Peringati Gerakan Sejuta Pohon 2026
Sebelumnya, pedagang di Pasar Minggu Palimanan, dikeluhankan oleh pedagang. Kondisinya sepi, perekonomiannya tidak bergerak. Padahal, baru saja direvitalisasi, menghabiskan anggaran hingga Rp15 miliar. Anggarannya dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Dari sekitar 250 pedagang, kini tersisa tak lebih dari 20 saja. Sisanya? Pergi. Satu per satu. Diam-diam. Tanpa seremoni. Permasalahannya klasik. Seluruh kios dipindah ke lantai atas. Lantai bawah dijadikan parkir. Pembelinya enggan naik.
“Semenjak pindah ke atas, pembeli hampir tidak ada,” kata salah satu pedagang di sana, Siti.
“Dulu pas di bawah ramai.sepi Sekarang,” katanya.
Yang masih bertahan, bukan karena kuat. Tapi karena belum punya pilihan. Beberapa pedagang melawan aturan. Mereka turun lagi ke lantai bawah. Padahal itu area parkir. Mereka tahu risikonya. Tapi lebih takut tidak makan. “Di atas tidak laku. Terpaksa turun lagi,” kata Ujang.
Masalah tidak berhenti di situ. Bangunan yang baru seumur jagung itu mulai menunjukkan gejala tua. Atap bocor. Udara masuk saat hujan. Lantai bawah tergenang. “Kalau hujan, atas bocor, bawah banjir,” kata Lina.
Pasar ini belum mati. Tapi sedang menuju ke sana. Kios-kios kosong mulai berjejer. Jika dibiarkan, bukan hanya sepi. Bisa jadi terbengkalai.
Para pedagang tidak meminta banyak. Cukup satu. Evaluasi. Ubah yang tidak jalan. Hidupkan kembali arus pembeli. Karena tanpa itu, bangunan senilai Rp15 miliar ini hanya akan menjadi monumen kegagalan. (zen)
Sumber: