Kurs Dollar ke Rupiah Hari Ini Sentuh Rekor Baru Rp17.630, Intip Data Resminya
Kurs Dollar ke Rupiah Hari Ini Sentuh Rekor Baru Rp17.630, Intip Data Resminya. Foto: Pinterest/ Rakyatcirebon.disway.id--
RAKYATCIREBON.DISWAY.ID - Tekanan terhadap mata uang Garuda belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali mencatatkan koreksi tajam pada pembukaan perdagangan awal pekan, Senin (18/5/2026).
Berdasarkan data terbaru, mata uang Indonesia melemah signifikan ke level Rp17.630 per dolar Amerika Serikat (AS), mencetak rekor terlemah baru dalam sejarah perdagangan nasional.
Merujuk pada data pasar, rupiah dibuka merosot 33 poin atau setara dengan pelemahan 0,19 persen dibandingkan dengan posisi penutupan akhir pekan lalu yang berada di level Rp17.597 per dolar AS.
Pergerakan fluktuatif pasca-pembukaan bahkan sempat membawa rupiah menyentuh kisaran level psikologis yang lebih dalam.
BACA JUGA:Berasal dari Tikus, Bagaimana Kasus Hantavirus Bisa Menular ke Manusia?
Tren pelemahan konstan ini tidak hanya dialami Indonesia, melainkan menjadi sentimen negatif yang memukul mayoritas mata uang di kawasan Asia.
Data perdagangan regional menunjukkan won Korea Selatan dan ringgit Malaysia memimpin kejatuhan di zona merah dengan koreksi mencapai 0,53 persen. Langkah serupa juga diikuti oleh dolar Taiwan, baht Thailand, hingga yen Jepang yang kompak melemah di hadapan the greenback.
Para analis menilai, ada dua faktor utama yang menjadi motor penggerak utama rontoknya nilai tukar rupiah hari ini.
Pertama, lonjakan harga minyak mentah dunia, khususnya jenis Brent yang terus bertahan di atas level 110 dolar AS per barel akibat ketegangan geopolitik global yang belum mereda. Sebagai negara importir minyak net (net oil importer), kenaikan harga komoditas ini langsung membebani neraca perdagangan dan kondisi fiskal dalam negeri.
BACA JUGA:Harga Omoway Omo X Mulai Rp35,5 Juta, Motor Listrik yang Bisa Parkir Sendiri!
Faktor kedua datang dari ranah domestik, di mana para pelaku pasar dan investor global masih bersikap responsif terhadap daya tahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam menahan gejolak subsidi energi.
Ketidakpastian arah kebijakan insentif serta bayang-bayang arus modal asing yang keluar (capital outflow) membuat tekanan di pasar obligasi dan valuta asing semakin nyata.
Dampak dari melonjaknya kurs dollar ke rupiah hari ini mulai memicu alarm waspada di sektor riil, terutama bagi industri manufaktur, farmasi, hingga tekstil nasional yang memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku impor.
Kenaikan biaya produksi akibat depresiasi rupiah ini dikhawatirkan dapat memicu penyesuaian harga jual di tingkat konsumen atau memaksa perusahaan melakukan efisiensi operasional.
Sumber: