Vitinha: Dari Cadangan Wolves Hingga Juara UCL Dua Kali Bersama PSG

Vitinha: Dari Cadangan Wolves Hingga Juara UCL Dua Kali Bersama PSG

Vitinha: Dari Cadangan Wolves Hingga Juara UCL Dua Kali Bersama PSG. Foto: PSG/ Rakyatcirebon.disway.id--

RAKYATCIREBON.DISWAY.ID - Panggung megah Puskás Aréna, Budapest, menjadi saksi bisu bagai mana Paris Saint-Germain (PSG) kembali menancapkan kuku dotasinya di Eropa.

Di balik gemerlap trofi Liga Champions 2025/2026 yang berhasil dipertahankan Les Parisiens, terselip sebuah kisah metamorfosis luar biasa dari sang jenderal lapangan tengah mereka, Vitinha.

Meraih gelar Man of the Match sekaligus mengangkat trofi Si Kuping Lebar untuk kedua kalinya secara beruntun (back-to-back) menjadi puncak pembuktian bagi gelandang asal Portugal ini.

Siapa yang menyangka, beberapa tahun lalu, namanya sempat dipandang sebelah mata saat terbuang dan hanya menjadi penghangat bangku cadangan di klub Liga Inggris, Wolverhampton Wanderers.

Masa-Masa Sulit di Premier League

Petualangan Vitinha di level tertinggi sepak bola Eropa tidak berjalan mulus sejak awal. Pada musim 2020/2021, ia sempat merantau ke Inggris untuk bergabung dengan Wolves dengan status pinjaman dari FC Porto.

Berharap mampu bersinar di kompetisi paling kompetitif dunia, pemain bernama lengkap Vítor Machado Ferreira ini justru membentur tembok besar.

Fisiknya yang mungil dinilai kurang cocok dengan gaya bermain Premier League yang mengandalkan kontak fisik yang keras. Sepanjang musim tersebut, Vitinha lebih banyak menghabiskan waktu di bangku cadangan dan hanya mencatatkan sedikit menit bermain.

Di akhir musim, Wolves bahkan menolak opsi untuk mempermanenkan kontraknya, sebuah keputusan yang mungkin sangat mereka sesali saat ini.

Titik Balik dan Puncak Magis di Paris

Enggan terpuruk, Vitinha kembali ke Porto untuk membuktikan kapasitasnya sebelum akhirnya bakat besarnya dicium oleh PSG pada musim panas 2022.

Di bawah asuhan Luis Enrique, potensi aslinya benar-benar meledak. Enrique berhasil menyulap Vitinha menjadi metronom modern yang cerdas, memiliki visi bermain di atas rata-rata, dan sangat tenang di bawah tekanan.

Puncaknya terjadi dalam dua musim terakhir. Setelah musim lalu ikut mengandaskan Inter Milan 5-0 di Munich, semalam Vitinha tampil bak monster di lini tengah saat meredam perlawanan Arsenal.

Ia sukses mendikte permainan Declan Rice dan Martin Ødegaard, sekaligus menjadi otak di balik dominasi 75 persen penguasaan bola PSG.

Dari seorang pemain yang sempat disia-siakan di kompetisi Inggris, Vitinha bertransformasi menjadi momok yang justru menghancurkan mimpi raksasa Inggris, Arsenal, untuk merajai Eropa.

Dua gelar juara Liga Champions berturut-turut menjadi bukti sahih bahwa kerja keras dan kecerdasan taktis mampu mengalahkan keraguan masa lalu.(*)

Sumber: