Ketitang Dorong Santri Jadi Produsen Narasi Publik
Peluncuran buku Jurnalisme Pesantren, mendorong santri menjadi produsen narasi publik. FOTO : IST/RAKYAT CIREBON--
RAKYATCIREBON.DISWAY.ID - Pesantren didorong lebih aktif mengisi ruang publik. Santri tidak cukup hanya menjadi sumber informasi. Mereka juga harus mampu memproduksi dan menyebarkan narasi.
Gagasan itu mengemuka di Pondok Pesantren Ketitang. Momentum tersebut bertepatan Haul dan Imtihan ke-47, kemarin 18 Juni 2026.
Dorongan itu menguat saat peluncuran buku Jurnalisme Pesantren: Sanad, Kaidah, hingga Kaifiah Pengembangan Media Kaum Sarungan. Buku karya KH Sobih Adnan tersebut menjadi pemantik.
Diskusi pun akhirnya berkembang membahas masa depan media pesantren. Sejumlah akademisi dan pegiat media turut hadir.
KH Sobih Adnan menjelaskan buku tersebut lahir panjang. Proses penyusunannya berlangsung hampir satu dekade penuh. Berbagai pengalaman lapangan kemudian dirumuskan menjadi konsep.
"Fokus utamanya menghubungkan pesantren dengan praktik jurnalistik," katanya.
Menurutnya, santri menghadapi tantangan berbeda saat meliput. Posisi kiai sebagai guru membutuhkan kehati-hatian tersendiri. Namun kewajiban verifikasi tetap harus dijalankan wartawan.
"Keseimbangan itu menjadi ujian penting bagi santri," katanya.
Ia menegaskan sikap kritis bukan bentuk kecurigaan. Jurnalisme membutuhkan proses pengujian terhadap setiap informasi. Tujuannya memastikan data yang diterima benar dan akurat. Publik berhak memperoleh informasi yang dapat dipercaya.
Rektor ISIF Cirebon, KH Marzuki Wahid, mengapresiasi terbitnya buku tersebut. Kehadirannya menunjukkan tradisi intelektual pesantren terus berkembang. Pesantren dinilai mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
"Termasuk menjawab tantangan komunikasi era digital," katanya.
BACA JUGA:Komisi IV DPRD Turun Tangan, Aduan Pekerja PT Indowooyang Temui Titik Terang
Menurutnya, buku tidak berhenti sebagai karya tulis. Buku melahirkan diskusi yang memperkaya ruang pengetahuan. Dari diskusi lahir gagasan dan pemikiran baru. Selanjutnya pemikiran dapat mendorong perubahan sosial.
KH Marzuki juga menepis anggapan negatif tentang pesantren. Bahwa selama ini hanya tradisi menerima. Padahal tradisi kritik tumbuh dalam kajian keilmuan.
Sumber: