Tiga Jam Bertemu Menteri Agama, Pengasuh BIMA Sebut Bahas Masa Depan NU

Tiga Jam Bertemu Menteri Agama, Pengasuh BIMA Sebut Bahas Masa Depan NU

Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, KH Imam Jazuli bersama Menag RI, Prof KH Nasaruddin Umar usai melangsungkan pertemuan, kemarin. FOTO : ZEZEN ZAENUDIN ALI/RAKYAT CIREBON--

RAKYATCIREBON.DISWAY.ID - Menteri Agama RI Prof KH Nasaruddin Umar MA berkunjung ke Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) 2, Kabupaten Cirebon, Minggu (5/7). 

Rombongan pun disambut Pengasuh Pondok Pesantren BIMA, KH Imam Jazuli Lc MA. Hampir tiga jam lamanya, pertemuan itu berlangsung. 

Pengasuh Pondok Pesantren BIMA, KH Imam Jazuli Lc MA menjelaskan meski Menag didampingi sejumlah pejabat Kementerian Agama. Namun pembahasan utama dilakukan tertutup. Langsung empat mata antara keduanya. 

KH Imam Jazuli mengungkapkan, salah satu pembahasan menyangkut dinamika Nahdlatul Ulama (NU) menjelang Muktamar ke-35. Menurutnya, Prof Nasaruddin menyampaikan tidak memiliki ambisi memimpin PBNU.

Sebagai Rois Syuriah PBNU, kata KH Imam, Nasaruddin merasa amanah yang diembannya saat ini sudah lebih dari cukup. Namun belakangan banyak kalangan struktural maupun kultural NU mendorongnya maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.

"Dorongan itu saya nilai sebagai panggilan khidmah. Ketika organisasi membutuhkan, seorang kader semestinya siap menyambutnya," ujar Imam menceritakan isi perbincangan.

Selain membahas kepemimpinan, keduanya juga mendiskusikan arah pembenahan organisasi NU. Mereka sepakat pentingnya merangkul seluruh potensi sumber daya manusia NU tanpa membedakan kelompok maupun faksi.

Pembentukan kepengurusan mendatang juga dinilai harus mengedepankan kompetensi dan profesionalisme. Rekrutmen pengurus, menurut Imam, tidak semestinya didasarkan pada faktor keturunan, asal daerah, maupun kedekatan politik.

BACA JUGA:Pendaftaran Beasiswa Kemenag 2026 Dibuka: Cek Jadwal Lengkap dan Syaratnya!

Dalam pertemuan itu, pendidikan menjadi agenda utama pembahasan. Pesantren, sekolah, dan perguruan tinggi NU dinilai harus menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan sesuai kebutuhan pembangunan nasional.

Sektor kesehatan juga menjadi perhatian. Pengembangan klinik hingga rumah sakit NU dinilai penting agar layanan kesehatan semakin mudah diakses warga Nahdliyin.

Keduanya juga membahas penguatan dakwah Islam rahmatan lil alamin. Nilai tawasuth, tasamuh, dan tawazun diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, melainkan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pemberdayaan ekonomi warga NU turut menjadi fokus pembahasan. Mayoritas Nahdliyin yang berasal dari kalangan menengah ke bawah dinilai membutuhkan program ekonomi yang lebih terstruktur.

Untuk mendukung seluruh agenda tersebut, hubungan sinergis dengan pemerintah serta partai politik yang memiliki kedekatan ideologis dengan warga NU dinilai tetap diperlukan. Langkah itu diharapkan memperkuat dukungan regulasi, pembiayaan, dan kebijakan.

Sumber:

Berita Terkait