Lulusan SMA hingga Sarjana Sulit Terserap Dunia Kerja
JELASKAN. Kepala Tim Humas BPS Kabupaten Cirebon, Harri Ramdhan berikan keterangan terkait naiknya angka pengangguran. FOTO: IST/RAKYAT CIREBON--
RAKYATCIREBON.DISWAY.ID - Lulusan SMA hingga perguruan tinggi semakin sulit menembus dunia kerja. Kondisi itu tercermin dari meningkatnya angka pengangguran terdidik tahun 2025.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Cirebon mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun. Tahun 2024, diangka 6,74 persen. Tahun 2025 menjadi 6,42. Namun, penurunan tersebut tidak terjadi pada kelompok lulusan berpendidikan menengah dan tinggi.
TPT lulusan SMA naik dari 7,67 persen menjadi 8,96 persen. Sementara lulusan perguruan tinggi mengalami kenaikan lebih tajam, dari 1,30 persen menjadi 3,33 persen.
BACA JUGA:Tingkat Pengangguran Terbuka 2026, Disnakertrans Targetkan Turun Dibawah 6,5 Persen
Kepala Tim Humas BPS Kabupaten Cirebon, Harri Ramdhani, mengatakan fenomena tersebut menjadi anomali di pasar kerja. Sebab, secara teori, semakin tinggi pendidikan seseorang seharusnya semakin besar peluang memperoleh pekerjaan.
"Harusnya semakin tinggi pendidikan, tingkat penganggurannya semakin rendah. Tapi yang terjadi justru anomali. Lulusan SMA, D3 hingga S1 yang menganggur masih cukup banyak," kata Harri, Rabu 8 Juli 2026.
Menurutnya, penyebab utama kondisi itu adalah belum selarasnya kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia usaha. Banyak perusahaan membutuhkan tenaga kerja dengan keahlian tertentu.
Sementara lulusan yang tersedia belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan tersebut.
Di sisi lain, tidak sedikit lulusan yang memilih menunggu pekerjaan sesuai latar belakang pendidikan dibanding menerima pekerjaan yang tersedia.
"Lapangan kerja yang ada kadang tidak match dengan lulusan perguruan tinggi. Ada juga lulusan yang memilih menunggu pekerjaan yang dianggap sesuai dengan pendidikannya," ujarnya.
BACA JUGA:Simak Alur Pendaftaran Mitra BPS 2026 Lengkap dengan Dokumen yang Wajib Diunggah
Harri menilai persoalan tersebut harus menjadi perhatian bersama. Pertumbuhan jumlah lulusan setiap tahun harus diimbangi penciptaan lapangan kerja yang mampu menyerap tenaga kerja berpendidikan.
Jika kondisi itu tidak segera diatasi, angka pengangguran terdidik dikhawatirkan terus meningkat. Dampaknya bukan hanya pada sektor ketenagakerjaan, tetapi juga terhadap daya beli masyarakat dan kualitas pembangunan manusia.
"Pengangguran membuat masyarakat kehilangan pendapatan. Akibatnya kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan standar hidup layak menjadi sulit dipenuhi. Itu akan berpengaruh terhadap IPM," tandasnya.
Sumber: