Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 15 September Melemah ke Rp17.686 per Dolar AS

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 15 September Melemah ke Rp17.686 per Dolar AS

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 15 September Melemah ke Rp17.686 per Dolar AS. Foto: Pinterest/ Rakyatcirebon.disway.id--

RAKYATCIREBON.DISWAY.ID - Pergerakan nilai tukar mata uang Indonesia kembali berada di zona merah.

Berdasarkan data transaksi pasar spot per 15 September, nilai tukar rupiah hari ini mencatatkan pelemahan hingga berada di level Rp17.686 per dolar Amerika Serikat (AS).

Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh tingginya ketidakpastian pasar finansial domestik terkait isu reshuffle kabinet di sektor kementerian ekonomi, yang berpadu kuat dengan tren penguatan indeks dolar AS di tingkat internasional.

Sejak pembukaan perdagangan pagi, mata uang lokal menunjukkan tren terdepresiasi tipis sebelum koreksi berlanjut di sepanjang hari.

Kondisi ini sejalan dengan melemahnya mayoritas mata uang di kawasan Asia akibat pergerakan dolar AS (greenback) yang kian kokoh.

BACA JUGA:IHSG Hari Ini Merosot ke 6.480, Pasar Saham Tertekan Isu Reshuffle Menkeu

Sentimen Kabinet Domestik Memicu Aksi Wait and See

Di dalam negeri, rumor pergantian jajaran menteri ekonomi, terutama posisi kunci Menteri Keuangan, menjadi perhatian mendalam para pelaku pasar modal dan valuta asing.

Kurs mata uang sangat peka terhadap perubahan sinyal kebijakan fiskal, pengelolaan anggaran, dan disiplin APBN.

Pelaku pasar dan investor institusi cenderung menahan diri (wait and see) hingga pemerintah memberikan kepastian nama pejabat baru serta kepastian kontinuitas arah kebijakan ekonomi makro Indonesia.

Aksi amankan aset (risk-off) oleh pelaku pasar keuangan ini turut mendorong pelepasan aset berisiko berbasis rupiah, yang berujung pada pelemahan nilai tukar domestik terhadap mata uang Amerika.

BACA JUGA:Ruang Fiskal APBN Diuji, Janji Politik Jangan Bebani Anggaran

Tekanan Pasar Global dan Kebijakan Suku Bunga

Tidak hanya faktor domestik, sentimen eksternal juga menyumbang tekanan cukup besar pada rupiah.

Indeks dolar AS terus merangkak naik imbas ekspektasi pasar terhadap data ekonomi Amerika Serikat dan arah kebijakan suku bunga acuan The Fed.

Tingginya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS membuat modal asing keluar dari pasar negara berkembang (emerging markets) dan kembali masuk ke pasar AS.

Sumber: