Ketika Ekonomi Tumbuh, tetapi Keranjang Belanja Menyusut
Keranjang belanja. Foto : Ilustrasi--
*Oleh: Rizka RS (Plt. Analis Yunior Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cirebon)
ADA satu fenomena ekonomi yang sering luput dari perhatian ketika kita terlalu sibuk membaca angka pertumbuhan. Ekonomi bisa tetap tumbuh, inflasi bisa relatif terkendali, bahkan angka kemiskinan bisa menurun, tetapi rumah tangga tetap merasa harus semakin berhati-hati mengatur pengeluaran.
Mungkin bukan karena mereka berhenti membeli. Mereka hanya mulai membeli lebih sedikit, lebih murah, atau menunda pembelian yang dianggap tidak mendesak. Inilah yang barangkali sedang terjadi dalam perekonomian kita, bukan sekadar penurunan konsumsi melainkan downtrading terhadap kehidupan sehari-hari.
Secara makro, perekonomian Indonesia sebenarnya masih tumbuh.
Pada semester I 2026 perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,45 persen. Angka tersebut tentu tidak buruk. Oleh karena itu, persoalannya bukan apakah Indonesia sedang mengalami resesi atau kontraksi. Persoalannya adalah bagaimana pertumbuhan tersebut diterjemahkan menjadi pendapatan, kesempatan kerja, dan daya beli di tingkat rumah tangga.
Di sinilah konsumsi rumah tangga menjadi penting. Konsumsi bukan hanya komponen terbesar dalam perekonomian, tetapi juga cermin paling dekat dari bagaimana masyarakat merasakan kondisi ekonomi. Ketika rumah tangga mulai mengubah keputusan belanjanya, perubahan tersebut pada akhirnya akan kembali memengaruhi dunia usaha, produksi, investasi, dan kesempatan kerja.
Fenomena tersebut menjadi semakin menarik ketika kita melihat kondisi daerah.
Di Jawa Barat, ekonomi pada 2025 tumbuh secara tahunan sebesar 5,32 persen. Di wilayah Ciayumajakuning, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Cirebon mencapai 6,23 persen, Majalengka 6,86 persen, dan Kuningan 6,98 persen. Namun, Indramayu tumbuh jauh lebih rendah, yakni 3,09 persen. Kota Cirebon sendiri tumbuh 5,34 persen. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa perlambatan ataupun penguatan ekonomi tidak berlangsung seragam. Bahkan dalam satu kawasan yang saling terhubung, pengalaman masyarakat dapat berbeda tergantung struktur ekonomi, lapangan pekerjaan, dan sumber pendapatan masing-masing daerah.
Pasar kerja memberikan gambaran yang lebih konkret.
Pada tahun 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Barat mencapai 6,77 persen. Di Ciayumajakuning, TPT Kota Cirebon tercatat 6,41 persen, Kabupaten Cirebon tercatat 6,42 persen, Indramayu 6,47 persen, Majalengka 3,62 persen, dan Kuningan 7,59 persen. Sayangnya, seseorang yang bekerja juga belum tentu memiliki pendapatan yang cukup untuk meningkatkan kesejahteraannya. Apakah pendapatan dari pekerjaan tersebut cukup untuk mempertahankan kualitas hidup?
Kenaikan upah minimum juga perlu dibaca dalam perspektif tersebut. Di Jawa Barat, pemerintah menetapkan UMK 2026 5,77% lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, Namun, upah minimum pada dasarnya merupakan batas bawah bagi kelompok pekerja tertentu dan bukan representasi pendapatan seluruh rumah tangga. Pekerja dengan masa kerja lebih dari satu tahun, pekerja informal, pekerja mandiri, maupun anggota keluarga yang tidak memiliki pendapatan tetap berada dalam struktur ekonomi yang berbeda. Karena itu, membandingkan kenaikan upah nominal dengan inflasi saja belum cukup untuk menjawab pertanyaan mengenai daya beli.
Terlebih lagi, inflasi yang terlihat moderat secara agregat belum tentu dirasakan secara sama oleh setiap kelompok masyarakat. Inflasi nasional pada September 2026 tercatat 3,28 persen secara tahunan. Meski masih relatif terkendali, namun komposisi pengeluaran rumah tangga menentukan seberapa besar tekanan tersebut benar-benar dirasakan. Bagi rumah tangga berpendapatan tinggi, kenaikan harga kebutuhan tertentu mungkin hanya berarti berkurangnya ruang untuk membeli barang sekunder. Bagi rumah tangga berpendapatan rendah, kenaikan harga pangan dapat berarti keputusan yang jauh lebih mendasar.
Mereka tidak berhenti makan. Mereka mengubah cara makan.
Perubahan perilaku rumah tangga tidak selalu terlihat dalam bentuk berhentinya konsumsi. Namun, yang berubah adalah apa yang dibeli, berapa banyak yang dibeli, dan kualitas barang yang dikonsumsi.
Sumber: