Dorong Guru SD Implementasikan Kepemimpinan Adaptif dan Kolaboratif
Dekan FKIP Universitas Sindang Kasih Majalengka, Dr Arip Amin MPd memberikan penguatan kepada pada guru di Kecamatan Kejaksan, kemarin. FOTO: ASEP SAEPUL MIELAH/ RAKYAT CIREBON--
CIREBON - Guru tak cukup hanya sekedar mengajar, mereka harus terus berubah, berkembang menyesuaikan diri dengan berbagai kemajuan yang terjadi.
Puluhan guru dari delapan Sekolah Dasar (SD) yang tergabung dalam Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 1 Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon diberikan penguatan tentang penerapan kepemimpinan adaptif dan kolaboratif untuk mendukung implementasi pembelajaran mendalam, kemarin.
Melalui kegiatan yang digelar di SDN Kartini 2 ini, para guru sekolah dasar dituntut tidak hanya mampu menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga terus beradaptasi, berkolaborasi, dan memperbaiki praktik pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik.
BACA JUGA:Enam Tahun Berkiprah, PT EWF Cirebon Perkuat Literasi Perdagangan Berjangka Komoditi dan Aksi Sosial
Dihadapan para guru, dalam penyampaiannya Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sindang Kasih Majalengka, Dr Arip Amin MPd menekankan pentingnya penguatan kepemimpinan yang terbuka terhadap perubahan, serta kolaborasi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, terutama di tingkat sekolah dasar.
Pada kondisi saat ini, lanjut Arip, segala bentuk perubahan dalam dunia pendidikan mendorong para guru untuk terus belajar dan mengevaluasi praktik pembelajaran.
Termasuk kepemimpinan bagi para guru, tidak hanya berkaitan dengan jabatan formal, tetapi juga kemampuan menggerakkan diri sendiri dan orang lain untuk mencapai tujuan bersama, khususnya didalam proses KBM yang berlangsung.
BACA JUGA:Cirebon Dibidik Jadi Ladang Migas, Ada 31 Titik Pengeboran di 3 Kecamatan
Dalam konteks sekolah dasar, kepemimpinan adaptif diperlukan agar guru mampu merespons beragam kebutuhan belajar peserta didik.
Sementara kepemimpinan kolaboratif mendorong guru, kepala sekolah, dan warga sekolah untuk saling berbagi pengalaman, mendiskusikan persoalan pembelajaran, serta merumuskan langkah perbaikan bersama.
"Penguatan kepemimpinan ini menjadi sangat penting bagi para guru, agar bisa membuat suasana KBM menjadi lebih berkualitas," ungkap Arip.
Pembahasan tersebut kemudian dikaitkan dengan implementasi pembelajaran mendalam yang menekankan pengalaman belajar berkesadaran, bermakna dan menggembirakan.
Maka, Arip mendorong agar pembelajaran tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi juga memberi ruang bagi peserta didik untuk memahami konsep, menerapkannya, dan merefleksikan proses belajarnya.
Sumber: