Kenapa Harga BBM Pertamina Bisa Berubah? Ini Faktor Utamanya

Kenapa Harga BBM Pertamina Bisa Berubah? Ini Faktor Utamanya

Kenapa Harga BBM Pertamina Bisa Berubah? Ini Faktor Utamanya. Foto: Pinterest/Rakyatcirebon.disway.id--

RAKYATCIREBON.DISWAY.ID – Pernahkah kamu merasa heran saat mendapati banderol bahan bakar minyak di SPBU tiba-tiba mengalami penyesuaian ketika hendak mengisi tangki kendaraan?

Perubahan tarif ini memang menjadi salah satu topik yang paling sering memancing perbincangan hangat di tengah masyarakat, terutama bagi mereka yang setiap hari mengandalkan kendaraan pribadi untuk mobilitas.

Banyak pengendara yang kerap bertanya-tanya mengenai alasan di balik fluktuasi angka tersebut, apakah murni kebijakan internal perusahaan atau ada kekuatan global yang mengaturnya.

Untuk mengupas tuntas rasa penasaran tersebut, mari kita bedah satu per satu faktor utama yang membuat harga BBM Pertamina bisa naik atau turun dari waktu ke waktu.

1. Pergerakan Harga Minyak Mentah Dunia (ICP)

Faktor penentu paling utama yang memegang kendali atas naik turunnya harga BBM adalah harga minyak mentah internasional, atau yang biasa dikenal sebagai Indonesian Crude Price (ICP).

Minyak mentah merupakan bahan baku utama yang harus dibeli oleh Pertamina dari pasar global sebelum diolah menjadi bensin atau solar siap pakai di kilang.

Ketika tensi geopolitik di Timur Tengah memanas atau terjadi gangguan rantai pasok global, harga minyak mentah dunia biasanya langsung meroket tajam.

Mau tidak mau, lonjakan biaya bahan baku ini ikut mengerek ongkos produksi secara keseluruhan, sehingga penyesuaian harga eceran di stasiun pengisian menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.

2. Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Amerika Serikat

Sebagai komoditas yang diperjualbelikan secara internasional, transaksi pembelian minyak mentah dunia wajib menggunakan mata uang Dolar AS.

Di sinilah peran penting nilai tukar rupiah menjadi sangat krusial bagi kelangsungan kalkulasi harga energi nasional.

Jika nilai tukar rupiah sedang melemah drastis terhadap dolar, biaya yang harus dikeluarkan untuk menebus minyak mentah impor otomatis membengkak berkali-kali lipat.

Kondisi makroekonomi seperti ini memberikan tekanan berat pada keuangan perusahaan, yang kemudian memaksa adanya penyesuaian tarif jual produk BBM non-subsidi di dalam negeri.

3. Kebijakan Subsidi dan Beban Anggaran Negara

Beda halnya dengan produk non-subsidi seperti Pertamax atau Pertamina Dex yang harganya disesuaikan secara berkala mengikuti mekanisme pasar global, jenis BBM tertentu seperti Pertalite dan Biosolar berada di bawah kendali ketat pemerintah.

Pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat harus memperhitungkan kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui alokasi dana subsidi dan kompensasi energi.

Sumber: