Pasca ISEF, Saatnya Pesantren Menggerakkan Ekonomi Umat
Ribuan alumni Pesantren KHAS Kempek mengikuti Ziarah, Dzikir dan Doa Ikhwan KHAS Nusantara di Pesantren Misykat Al-Anwar, Kedungbunder, Gempol, Kabupaten Cirebon, Sabtu (15/8/2026) malam. FOTO : IST/RAKYAT CIREBON--
*Oleh: Agus Umar Akmad (Asisten Penyelia Perkasan – Unit Implementasi Pengelolaan Uang Rupiah KPw Bank Indonesia Cirebon)
BAGI banyak orang, ekonomi sering kali hadir dalam bentuk angka. Angka pertumbuhan, angka inflasi, angka transaksi, atau angka investasi. Namun bagi pedagang kecil di pasar, pengusaha rumahan, atau orang tua yang sedang berjuang menyekolahkan anaknya, ekonomi sesungguhnya hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana: apakah dagangannya laku, apakah usahanya bisa berkembang, dan apakah kehidupannya menjadi lebih baik dari hari kemarin.
Karena itulah keberhasilan pembangunan tidak pernah benar-benar diukur oleh besarnya angka yang diumumkan dari atas panggung. Keberhasilan baru memiliki arti ketika angka tersebut menjelma menjadi peluang yang dapat dirasakan oleh masyarakat.
Dari Panggung ke Akar Rumput
Refleksi itu terasa relevan setelah gelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 berakhir. Berbagai kolaborasi, forum bisnis, dan penguatan ekosistem ekonomi syariah telah dilaksanakan. Namun pertanyaan yang lebih penting justru muncul setelah acara usai: siapa yang akan menerjemahkan berbagai peluang tersebut menjadi manfaat nyata bagi masyarakat?
Di tengah pertanyaan itu, pesantren layak mendapat perhatian lebih besar.
Selama ini pesantren dikenal sebagai pusat pendidikan dan dakwah. Padahal di banyak daerah, pesantren juga berkembang menjadi pusat pemberdayaan ekonomi yang tumbuh bersama masyarakat. Pesantren tidak hanya mengajarkan nilai-nilai agama, tetapi juga membangun ruang bagi masyarakat untuk bertumbuh secara ekonomi.
Pesantren dan Jalan Kemandirian
Cirebon memberikan gambaran menarik mengenai hal tersebut. Di Kabupaten Cirebon, Pesantren Al Bahjah mengembangkan kemandirian ekonomi melalui Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) Al Bahjah yang dibangun untuk menopang aktivitas ekonomi pesantren sekaligus melayani kebutuhan masyarakat dengan prinsip syariah. Kehadiran lembaga tersebut menunjukkan bahwa fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan ekonomi dapat berjalan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Tidak jauh dari sana, Pesantren KHAS Kempek menjadi contoh bagaimana pesantren dapat berperan dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah melalui koperasi pesantren, literasi keuangan, pemberdayaan usaha kecil, serta penguatan rantai nilai halal. Pengalaman tersebut bahkan menjadikan pesantren ini sebagai bagian dari program percontohan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah berbasis pesantren.
Sementara itu, Buntet Pesantren selama puluhan tahun telah tumbuh bersama masyarakat sekitarnya. Keberadaannya tidak hanya membentuk kehidupan keagamaan, tetapi juga mendorong aktivitas ekonomi yang hidup di sekitar lingkungan pesantren. Hubungan yang erat antara pesantren dan masyarakat menjadikannya salah satu simpul sosial yang memiliki pengaruh besar dalam pembangunan ekonomi lokal.
Yang menarik, kekuatan pesantren sesungguhnya bukan terletak pada besarnya aset yang dimiliki. Kekuatan itu terletak pada kepercayaan.
Menggerakkan Ekonomi dari Komunitas
Bayangkan seorang pedagang kecil yang membutuhkan tambahan modal usaha, seorang ibu rumah tangga yang ingin memulai usaha makanan rumahan, atau seorang santri yang bercita-cita menjadi wirausahawan setelah lulus. Bagi mereka, pesantren bukan institusi yang jauh dan sulit dijangkau. Pesantren adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Ada hubungan emosional, kedekatan sosial, dan kepercayaan yang telah terbangun selama bertahun-tahun.
Sumber: