“Melalui program ini, kami ingin mencetak agen perubahan di kalangan mahasiswa. Konselor sebaya diharapkan menjadi jembatan antara mahasiswa dan layanan pendampingan yang ada di kampus, sekaligus teladan dalam membangun komunikasi yang empatik dan autentik,” ujarnya.
Kegiatan ini menjadi langkah awal strategis dalam membangun ekosistem kampus yang inklusif, suportif, dan berpihak pada pengembangan potensi mahasiswa secara utuh. Dengan lahirnya para konselor sebaya yang terlatih, diharapkan tercipta budaya kampus yang peduli, empatik, dan saling mendukung. (rls)