RAKYATCIREBON.DISWAY.ID – Pemerintah saat ini tengah berupaya meningkatkan ketersediaan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik. Hal ini menyusul adanya kendala pasokan yang dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) yang dinilai masih kurang menarik bagi pemasok.
Wakil Direktur Utama Cirebon Power, Joseph Pangalila, mengatakan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik memang mulai terasa berkurang sejak tahun lalu. Menurutnya, harga DMO untuk batu bara yang digunakan pembangkit listrik masih lebih rendah dibandingkan sektor lain.
“DMO batu bara untuk pembangkit listrik itu termasuk paling rendah dibandingkan sektor lain. Misalnya untuk industri semen bisa sekitar USD 90 per ton, sementara untuk pembangkit listrik hanya sekitar USD 70 per ton,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat pemasok batu bara cenderung memprioritaskan penjualan ke sektor lain yang menawarkan harga lebih tinggi. Sebut saja seperti smelter yang mengikuti harga pasar.
Akibatnya, pasokan batu bara ke pembangkit listrik menjadi prioritas terakhir. Jika kondisi ini terus terjadi, dikhawatirkan dapat berdampak pada ketersediaan listrik.
“Kalau batu bara tidak ada tentu pembangkit juga tidak bisa beroperasi. Dampaknya bisa ke ketersediaan listrik, walaupun kita tentu tidak mengharapkan itu terjadi,” katanya.
Saat ini, stok batu bara di sejumlah pembangkit bervariasi. Ada yang memiliki cadangan di atas 10 hari, namun ada pula yang berada di bawah batas tersebut.
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah disebut tengah berkomunikasi dengan para pemasok batu bara agar meningkatkan pasokan ke pembangkit listrik.
BACA JUGA:PLTU Cirebon 2 Resmi Jadi Obvitnas ke-26 di Jawa Barat
“Kami meminta keberpihakan pemerintah agar suplai batu bara ke sektor listrik bisa ditambah. Pemerintah sudah dan sedang berbicara dengan supplier agar menyediakan lebih banyak batu bara untuk pembangkit,” jelasnya.
Joseph menambahkan, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) tidak mudah mengganti bahan bakar. Sejak awal telah didesain menggunakan jenis batu bara tertentu. Mengganti dengan jenis batu bara lain tidak selalu memungkinkan. Setiap pembangkit memiliki spesifikasi batu bara yang berbeda.
Meski demikian, ia memastikan kondisi pasokan listrik menjelang Idul Fitri masih dalam kondisi aman. Hal ini juga dipengaruhi oleh penurunan konsumsi listrik saat libur Lebaran karena banyak industri yang menghentikan operasional sementara.
“Biasanya menjelang Lebaran banyak pabrik tutup sehingga kebutuhan listrik juga menurun. Jadi untuk kondisi menjelang Lebaran ini masih aman,” katanya.
Di tengah proses transisi energi, Joseph menilai batu bara masih menjadi tulang punggung keandalan pasokan listrik nasional. Apalagi di tengah ketidakpastian energi global, termasuk dampak konflik di kawasan Timur Tengah yang memengaruhi pasokan minyak dunia.
“Kita bersyukur masih memiliki batu bara dan juga sebagai produsen batu bara. Itu membantu menjaga keandalan suplai listrik,” ujarnya. (zen)