RAKYATCIREBON.DISWAY.ID — Kondisi Pasar Minggu Palimanan, Kabupaten Cirebon, kian memprihatinkan. Hampir dua tahun pasca direvitalisasi aktivitas ekonomi di pasar tersebut belum menunjukkan geliat signifikan.
Padahal, anggaran yang dikucurkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, nilainya fantastis. Sebanyak Rp15 miliar jumlahnya. Yang terjadi saat ini, sejumlah pedagang dilaporkan meninggalkan lokasi. Minat pembeli terus menurun.
Situasi ini memicu kekhawatiran akan menurunnya kepercayaan pemerintah provinsi terhadap pengelolaan anggaran daerah, jika hasil pembangunan tidak memberikan dampak nyata.
Wakil Bupati Cirebon, H Agus Kurniawan Budiman, mengakui kondisi tersebut. Ia memastikan pemerintah daerah akan melakukan evaluasi menyeluruh. Setiap anggaran yang digelontorkan harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya para pedagang.
“Kami ucapkan terima kasih atas informasi ini. Harapannya, anggaran dari pemerintah benar-benar bisa dimanfaatkan dan memberikan manfaat, terutama bagi para pedagang,” ujar Agus.
Menurutnya, revitalisasi pasar sejatinya bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, realita di lapangan menunjukkan belum tercapainya tujuan tersebut.
“Kami akan evaluasi agar Pasar Minggu Palimanan bisa kembali tumbuh, ada perputaran ekonomi, dan kembali ramai dipenuhi pedagang maupun pembeli seperti sebelum pembangunan,” katanya.
Salah satu persoalan yang mencuat adalah keberadaan pasar darurat yang hingga kini masih beroperasi di sekitar lokasi. Kondisi itu dinilai menjadi salah satu penyebab tidak optimalnya fungsi pasar hasil revitalisasi. Pedagang dan pembeli masih bertahan di lokasi lama.
Jigus--sapaan akrabnya mengaku belum bisa mengambil keputusan sepihak. Perlu berkoordinasi terlebih dahulu dengan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Cirebon.
“Kami akan berkoordinasi dulu dengan Disperdagin. Jika memang ada kendala di pasar darurat, kami akan cari solusi terbaik. Intinya bagaimana pasar ini bisa kembali ramai dan roda ekonomi bisa berjalan,” tegasnya.
Sebelumnya, Kepala Bidang Pasar Disperdagin Kabupaten Cirebon, Teguh Mulyono, menegaskan sepinya aktivitas di Pasar Minggu Palimanan, salah satu faktor penyebabnya karena pasar dua lantai.
Hal itu turut memengaruhi tingkat kunjungan. Konsumen cenderung enggan naik ke lantai atas, terutama kalangan usia lanjut yang menjadi mayoritas pengunjung pasar rakyat.
“Pasar ini dibangun dua lantai. Salah satu kendalanya, konsumen enggan naik ke atas. Padahal dari sisi desain sudah diperhitungkan, aman dan ramah untuk semua usia,” jelasnya.
Selain dipicu faktor fisik bangunan. Juga ada perubahan perilaku konsumen. Lebih memilih berbelanja secara daring.
“Tren masyarakat saat ini lebih nyaman belanja online. Jadi pedagang juga harus bisa berinovasi agar tetap bertahan,” ujar Teguh.
Ia mengakui, yang sepi hanya di area depan saja. Aktivitas jual beli di bagian belakang (pasar darurat,red) masih tergolong normal. “Palimanan itu yang terlihat sepi di depan saja. Di belakang sebenarnya masih normal,” katanya, didampingi Analis Perdagangan, Nururip Wijaya.
Untuk menarik minat masyarakat, berbagai upaya telah dilakukan. Mulai dari menggelar senam massal, kegiatan pelayanan pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB), hingga lomba mewarnai untuk anak-anak.
“Kita sudah coba hidupkan dengan berbagai kegiatan supaya masyarakat tahu ada aktivitas di pasar. Tapi memang hasilnya belum maksimal,” ujarnya.
Memang, untuk mendongkrak kunjungan sempat ada permintaan dari para pedagang. Minta bisa berjualan di bawah. Diperbolehkan, sampai akhir Ramadan. Setelah berakhir, pedagang kembali diminta menempati kios di lantai atas.
Ternyata malah ditolak sebagian besar pedagang. “Setelah Ramadan, mereka enggan kembali ke atas. Ini jadi dilema bagi kami,” ungkap Teguh.
Padahal, design dua lantai, sudah melewati berbagai kajian. Diantaranya, mengakomodir para pedagang yang terdampak. Pasalnya, bangunan pasar mundur 17 meter dari badan jalan. (zen)