Di sisi lain, studi epidemiologi dan data WHO mencatat bahwa Influenza B lebih sering menyerang kelompok anak-anak, balita, serta remaja.
Pada kelompok usia muda ini, infeksi Influenza B kerap memicu keluhan pencernaan yang lebih menonjol, seperti mual, muntah, dan diare, di samping gejala respirasi.
BACA JUGA:Itel A300+ Resmi Masuk Indonesia dengan Harga Murah, Usung Dual Screen dan Baterai 7.000 mAh
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Baik Influenza A maupun B menunjukkan gejala klinis serupa yang muncul secara mendadak (abrupt onset). Penderita umumnya mengalami:
- Demam tinggi mendadak (di atas 38°C).
- Nyeri otot dan sendi yang hebat (myalgia).
- Batuk kering persisten dan sakit tenggorokan.
- Sakit kepala berat dan kelelahan ekstrem.
Jika penderita mengalami tanda bahaya seperti sesak napas, bibir kebiruan (sianosis), atau demam tinggi yang tidak kunjung turun setelah 3 hari, penanganan medis darurat harus segera dilakukan tanpa memandang tipe virusnya.
Langkah Pencegahan Efektif
Kemenkes menekankan bahwa cara terbaik untuk terlindung dari kedua tipe virus ini adalah melalui pencegahan aktif.
Pemberian vaksinasi influenza musiman (kuadrivalen) direkomendasikan setiap tahun karena mampu memberikan perlindungan sekaligus terhadap dua subtipe Influenza A (H1N1 dan H3N2) serta dua lini tipe Influenza B (Victoria dan Yamagata).
Di samping itu, penerapan pola hidup bersih dan sehat, seperti rajin mencuci tangan dan menggunakan masker saat sakit, tetap menjadi kunci utama memutus rantai penularan.(*)