Harga Gabah Kering Belum Beranjak Naik

Jumat 23-07-2021,13:00 WIB
Reporter : Iing Casdirin
Editor : Iing Casdirin

RAKYATCIREBON.ID - Harga gabah kering giling di Kabupaten Majalengka sejak akhir tahun lalu tidak pernah beranjak naik walaupun musim paceklik. Bahkan ketika puncak musim panen, harga merosot tajam.

Sehingga dengan harga gabah tertinggi hanya mencapai Rp450.000-Rp460.000 per kwintal, petani harus merugi karena modal yang dikeluarkan cukup besar.

Terlebih ketika terjadi kelangkaan pupuk atau petani yang tidak memiliki kartu tani dan tidak terdaftar di Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) hingga petani harus membeli pupuk non subsidi seharga Rp 600.000 per kwintal. Karena penyalur pupuk tidak bersedia melayani pembelian pupuk bersubsidi.

“Harga gabah sudah lama hanya Rp 450.000 per kwintal. Tidak bisa naik sama sekali, padahal modal tani padi besar. Makanya petani padi mah hanya memutarkan uang tanpa upah,” ujar Sri (40) petani asal Kelurahan Simpeureum, Kecamatan Cigasong, Kabupaten Majalengka, Kamis (21/7).

Menurutnya, dengan harga gabah Rp450.000 per kwintal, petani hanya mendapatkan upah sebesar Rp6.000 per hari. Karena modal yang dikeluarkan mencapai sekitar Rp1.610.000.

Jumlah itu belum termasuk harus mengurus air, jika saluran mampet atau bagi giliran yang harus disusul ke wilayah Maja dengan jarak belasan kilometer.

Kemudian untuk biaya traktor mencapai Rp300.000, mencangkul Rp200.000, pupuk Rp60.000, obat pestisida Rp200.000, upah menyiangi dengan pekerja 4 orang selama dua hari Rp240.000, bibit padi sebanyak 7 kg seharga Rp70.000.

Sedangkan hasil panen gabah jika kualitas bagus hanya 5 kwintal. Sebaliknya jika diserang hama, maka paling diperoleh hanya 3 kwintal.

“Jika panen 5 kwintal dengan harga Rp450.000 maka pendapatan hanya Rp2.250.000. Sedangkan modal lebih dari Rp1.600.000. Apalagi kalau dihitung setiap hari harus ke sawah untuk melihat air,” ucapnya.

Aef (45) petani di Desa Panyingkiran malah menyebutkan, kerugian cukup besar karena harga gabah di wilayahnya lebih rendah, dengan hanya Rp430.000-Rp 440.000 per kwintal.

Selain kerugian akibat harga murah, di wilayahnya areal sawah kerap kebanjiran seperti yang dialami saat MT rendeng kemarin sehingga tanaman rusak atau kekeringan disaat intensitas hujan mulai rendah.

“Upah kerja di kami juga lebih mahal,  sudah mencapai Rp80.000 hingga Rp100.000 per setengah hari. Itu dikasih makan dan kopi di pagi hari,” jelas dia.

Sementara itu, rendahnya harga gabah tidak terlalu berpengaruh pada harga beras di pasaran. Sekarang harga beras berkisar antara Rp8.700 per kg untuk beras medium dan Rp12.000 per kg untuk kualitas premium.

Karena itu, jika konsumen ingin membeli beras lebih murah dengan kualitas bagus, maka harus rajin mencari kios beras yang menyediakan harga murah.

Karena ada beberapa kios yang menyediakan beras premium namun harganya hanya Rp10.000 saja per kg. Sedangkan diluar pasar tradisional, harga beras premium lebih mahal Rp1.500 - Rp2.000 setiap kilogramnya.(hsn)

Tags :
Kategori :

Terkait