Chitra Dewi, Putri Bangsawan Keprabonan Cirebon yang Main Film

Senin 27-01-2020,20:27 WIB

Misbach Yusa Biran dalam Peran Pemuda dalam Kebangkitan Film Indonesia (2009: 152) menggambarkan Tiga Dara sebagai film hiburan ringan yang punya kapasitas interaksi dengan penonton. Selain dipenuhi lagu-lagu gembira karya Ismail Marzuki yang dilantunkan oleh pemain-pemain baru berwajah segar, film ini juga dianggap berhasil menampilkan citra perempuan ideal.

 

Pendapat itu secara khusus dilontarkan Misbach kepada sosok Chitra Dewi yang “dianggap mewakili wanita Indonesia yang ideal, lembut dan pemalu.” Sosok Dewi yang sederhana dan pemalu ini seolah dibenarkan oleh penampakan wajah bulat Dewi yang jauh dari kesan make-up tebal, rambut yang senantiasa tersanggul rapi, dan selalu tampil dalam balutan kebaya.

 

Di bawah Perfini, peranan-peranan yang dimainkan Chitra Dewi memang tidak pernah jauh dari citra perempuan yang lemah lembut. Dalam Djenderal Kantjil, ia membawakan peranan ibu yang bijaksana. Sementara dalam Pak Prawiro, Dewi kembali memainkan istri yang berperangai baik. Kedua film tersebut dirilis pada 1958.

 

Dewi terus bekerja sama dengan Usmar Ismail sampai sekitar tahun 1960. Film terakhirnya di bawah Perfini merupakan film berlatar Revolusi Indonesia berjudul Pedjuang. Meskipun hanya mengisi peran pembantu, permainan akting Dewi sebagai perempuan melankolis yang menanti kekasihnya kembali dari medan perang ini disebut-sebut menjadi salah satu yang terbaik.

 

Sepanjang kariernya yang terus meroket sepanjang 1960-an, peranan yang dibawakan Dewi hampir tidak berubah. Pada 1969 Dewi mendapat peran utama dalam film Nji Ronggeng produksi Dewan Produksi Film Nasional (DPFN) yang masih tergolong perusahaan film milik negara. Krishna Sen dalam artikel “Wajah Wanita dalam Filem Indonesia: Beberapa Catatan” yang dimuat di majalah Prisma No. 7 (Juli 1981), menyebut film ini tidak ubahnya film-film Orde Baru yang gemar mengemukakan citra perempuan ideal.

 

“Perempuan ideal dalam film-film itu pertama-tama pasif, menderita tanpa protes, kuat perasaannya akan tetapi tidak mengungkapkannya. Semua dipendam dalam hati,” tulis Sen.

 

Sepanjang paruh kedua 1970-an dan 1980-an, Dewi hampir selalu memainkan peranan sebagai ibu. Pernah suatu ketika pada 1971, ia mengubah peranannya menjadi tante girang yang dimainkan dalam film Romansa. Pers pun beramai-ramai mencela aktingnya yang tidak sesuai dengan kostum yang dikenakan.

 

“Dalam film Romansa kita akan menjumpai keganjilan pada tokoh Tante Leila (Chitra Dewi). Karena predikat peran tante yang sudah rada seimbang dengan usia si pelakonnya ini terganggu oleh kostum rok mini setengah paha,” tulis Suara Karya (3/11/1973). (*)

 

Tags :
Kategori :

Terkait