Memoar Putra Bungsu Mayor Tan Tjin Kie

Senin 20-01-2020,07:59 WIB

Gin Ho meneruskan wasiat ayahnya untuk mendirikan masjid di kawasan pabrik gula itu “...sebab ini mesigit di nijat di bikin jang bagoes boeat bisa toeroet djadi perhiasan fabriek...”

 

Mayor Tan Tjin Kie memang sangat dihormati. Sekitar sepuluh tahun selepas pemakaman akbar itu ahli sastra Jawa, Theodoor Gautier Thomas Pigeaud (1899 –1988), mengungkapkan bahwa sang mayor itu memiliki koleksi wayang gedok—wayang yang mementaskan cerita Panji—koleksi manuskrip, dan memiliki perhatian khusus kepada para dalang. Pigeaud pun menjuluki Tan Tjin Kie sebagai “pelindung besar kesenian Jawa”.

 

Suikerfabriek Luwunggadjah, pabrik gula yang sekaligus menjadi pabrik uangnya Mayor Tan Tjin Kie.

 

Gin Ho melaporkan pandangan matanya soal dampak upacara pemakaman sang ayah. Sementara jalanan di Cirebon dan sekitarnya kebanjiran pengunjung, tidak demikian dengan pusat perbelanjaan. “Pasar-pasar dalem kota semoea kosong, tida ada jang djoealan,” tulisnya. “Djangan lagi pasar-pasar di kota; pasar-pasar di loear kota [...] djoega djadi kosong.”

 

 Tan Gin Ho, Peringetan dari Wafatnja Majoor Tan Tjin Kie, Druk en Cliche\'s van G. Kolff & Co. BKereta jenazah Mayor Tan Tjin Kie tatkala meninggalkan rumah duka ke permakaman pribadinya di Dukusemar, Cirebon.

 

Peti jenazah diangkut keluar dari rumah duka oleh 60 orang Tionghoa berbusana dan topong serba putih. Kemudian  dengan cepat zonder ada suara, peti yang berkilau itu diangkut ke atas kereta jenazah. Kereta itu ditarik oleh 240 orang Tionghoa. “Perak-peraknja peti berkilat ketjorot oleh mata hari, lantas barisan militair kasih salvo.”

 

Dua kereta yang mengiringi arak-arakan pemakaman Mayor Tan Tjin Kie. Arak-arakan upacara pemakaman ini terdiri atas sembilan kelompok yang panjangnya hampir satu kilometer.

 

Arak-arakan upacara pemakaman sang mayor ini terdiri atas sembilan kelompok yang panjangnya hampir satu kilometer. Mereka berjalan dari rumah duka hingga ke peristirahatan terakhirnya di Dukusemar, Cirebon. Sementara itu konvoi mobil pelayat, kereta dan kahar yang berjalan dibelakang kereta jenazah itu panjangnya kira-kira  hingga dua pal—sekitar  tiga kilometer lebih!

 

Jelas itu adalah hari yang sibuk dan panjang untuk polisi. Sepanjang jalan menuju permakaman, setiap 20 meter tempak polisi berjaga di kanan dan kiri jalan. Dalam arak-arakan, pun satu polisi bertugas setiap 10 meter. Gin Ho mengungkapkan, setidaknya hari itu sejumlah 600 polisi mencurahkan perhatiannya untuk menjaga ketertiban upacara ini.

 

Tags :
Kategori :

Terkait