Vina asal Desa Gombang Kabupaten Cirebon Kena Modus “Pengantin Pesanan”, Keluarga Berharap Cepat Pulang
KRONOLOGIS. Keluarga Vina dan Kuasa Hukumnya, Asep Maulana Hasanuddin membeberkan kronologis kejadian dugaan Vina korban perdagangan dan kekerasan di China.-ISTIMEWA/RAKYATCIREBON.DISWAY.ID-
CIREBON, RAKYATCIREBON.DISWAY.ID - Kisah pilu dialami warga Desa Gombang, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Ia diduga menjadi korban praktik perdagangan orang dengan modus “pengantin pesanan” yang melibatkan jaringan lintas negara hingga ke China.
Perempuan bernama Vina itu awalnya tak pernah menyangka perkenalan biasa justru membawanya ke dalam lingkaran sindikat perjodohan internasional yang berujung penyekapan, kekerasan fisik, hingga dugaan kekerasan seksual di negeri orang.
Kuasa hukum keluarga Vina, Asep Maulana Hasanuddin dari YLBH Garuda Sakti Cirebon, membeberkan kronologi dugaan penipuan, eksploitasi, dan kekerasan yang dialami seorang perempuan asal Desa Gombang, Kabupaten Cirebon, setelah dijodohkan dengan pria asal China.
Kasus ini bermula saat Vina bekerja di salah satu tempat di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta.
Menurut Asep, tanpa sepengetahuan korban, Vina diam-diam difoto oleh seorang pria yang disebut sebagai warga negara asing asal China.
“Awalnya Vina didekati dan ditawari apakah mau punya pacar orang China. Ia juga diperlihatkan sejumlah foto pria,” ujar Asep saat ditemui awak media.
Pada awalnya, kata Asep, Vina tidak menggubris tawaran tersebut. Namun karena hampir setiap hari ditawari, ia akhirnya mulai bertanya tentang sosok pria yang dimaksud. Sejak saat itu, Vina disebut beberapa kali bertemu dengan orang yang memperkenalkan calon suami tersebut, tanpa sepengetahuan atasannya di PIK.
"Awalnya tuh ga gubris tawarannya, terus lama kelamaan ditawari mulu dan akhirnya Vina mencari tahu sosok pria yang dimaksud. Sejak saat itu lah Vina beberapa kali bertemu dengan orang yang memperkenalkan calon suaminya dan tanpa diketahui oleh atasannya," katanya.
Tak lama kemudian, sejumlah warga negara asing datang ke Cirebon dengan dalih bersilaturahmi. Dalam pertemuan pertama, hadir beberapa nama seperti Liu, Zhang, dan Wang Jun, didampingi sejumlah warga Indonesia bernama Nisa, Herman, dan Susi.
Kedatangan kedua berlangsung dengan rombongan yang lebih lengkap, termasuk Wang Jun dan Wang Yujun yang disebut sebagai ayah dan anak. Tujuannya diduga untuk melihat langsung calon mempelai wanita.
Kunjungan ketiga dilakukan oleh Liu, Wang Jun, Wang Yujun, serta seorang pria paruh baya berkepala botak yang tidak diketahui identitasnya. Mereka sempat mengajak makan di luar, namun maksud kedatangan tidak dijelaskan secara gamblang.
Pada 5 Agustus 2025, rombongan kembali datang ke Cirebon, termasuk beberapa perantara yang diduga agen dari Indonesia. Kedatangan itu disebut untuk memberikan mahar sebagai tanda keseriusan pernikahan.
Asep mengungkapkan, Vina diiming-imingi mahar sebesar Rp100 juta serta janji kiriman uang bulanan untuk keluarganya di Indonesia. Selain itu, keluarga korban diyakinkan bahwa calon suami telah menjadi mualaf dan pernikahan akan dilangsungkan secara Islam.
Sumber: