Minta Semua SPPG Jangan Main-main
Anggota Komisi III DPRD Kota Cirebon, Umar S Klau. FOTO: ASEP SAEPUL MIELAH/ RAKYAT CIREBON--
CIREBON - Anggota Komisi III DPRD Kota Cirebon, Umar S Klau meminta kepada seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi tangan panjang Badan Gizi Nasional (BGN) dalam pelaksanaan Program MBG, khususnya di Kota Cirebon untuk lebih serius dan tidak main-main.
Hal ini merespon dampak dari kejadian dugaan keracunan MBG yang dimasak oleh SPPG Kalijaga-Harjamukti yang mengakibatkan ratusan siswa merasakan gejala dan mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Salah satu dampaknya, adalah penolakan dari para orang tua di sekolah-sekolah terdampak yang menyatakan menolak program tersebut.
BACA JUGA:DKPPP Perketat Pengawasan Keamanan Pangan Bahan Baku MBG
"Urusan MBG ini sudah mengarah pada kejadian luar biasa. Harusnya jangan main-main. Resikonya nyawa anak-anak. Jadi kita minta dapur-dapur ini lebih serius," ungkap Umar.
Umar melihat, saat ini pemerintah masih melakukan trial and eror terhadap program MBG ini, dimana saat ini di beberapa daerah mencoba menerapkan MBG dengan sistem prasmanan.
"Ironinya disini, untuk anak masih coba-coba," lanjut Umar.
BACA JUGA:15 Motor Listrik Bantuan KOMIPO Diserahkan ke Pemkab Cirebon, Dukung Penanganan TBC dan Kusta
Yang membuatnya tak habis pikir, Umar juga melihat bahwa beberapa kejadian dugaan keracunan yang terjadi, bahkan korbannya mencapai ratusan, terkesan hanya dianggap kejadian biasa.
"Beberapa kejadian accident di lapangan ini dianggap hanya fenomena biasa. Ini yang anomali," ujar Umar.
Setelah mencoba menganalisis, dijelaskan Umar, sebetulnya akar permasalahan dari berbagai kejadian dugaan keracunan ini mengerucut pada persoalan yang sama, yakni penerapan SOP di SPPG.
BACA JUGA:Bupati Imron Tekankan Kualitas Guru dan Digitalisasi Usai Revitalisasi Sekolah di Cirebon
Bagaimana tidak, kata Umar, dalam satu hari, SDM yang cenderung belum terbiasa mengolah makanan hingga ribuan porsi, dipaksa untuk bekerja selama lima hari, dengan jam kerja yang tak masuk akal.
"Sebenarnya akar masalahnya sudah terlihat. Metode dapur SPPG itu kurang efektif. Over kuota, dan inkompetensi. Petugas kurang istirahat, dan akibanta terjadi accident dimana-mana," ujar Umar.
Sumber: