Menelusuri Jejak Pengasingan Pahlawan, Fadli Zon Ziarah Ke Makam Radja Jacob Ponto
Tabur Bunga. Menelusuri jejak pengasingan pahlawan, Fadli Zon ziarah ke makam Radja Jacob Ponto.-(Bubud Sihabudin-Rakyat Cirebon)
RAKYATCIREBON.DISWAY.ID, KUNINGAN - Kunjungan kerja Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, ke Kabupaten Kuningan, Jumat (3/4/2026), tak sekadar agenda resmi. Di tengah rangkaian kegiatannya, ia menyempatkan diri berziarah ke makam bersejarah Radja Jacob Ponto, tokoh yang menjadi simbol perjuangan pra kemerdekaan, yang mengalami praktik pengasingan pada masa kolonial.
Dalam keterangannya, Fadli mengulas kembali strategi sistematis pemerintah kolonial Belanda yang menurutnya sengaja memutus mata rantai perjuangan rakyat. Cara yang digunakan bukan hanya penindasan fisik, melainkan juga pengasingan tokoh-tokoh pergerakan dari basis sosialnya.
“Memisahkan pemimpin dari rakyatnya adalah pola klasik penjajah. Dengan cara itu, perjuangan menjadi terputus dan kehilangan arah,” ujarnya.
Ia mencontohkan sejumlah tokoh besar Nusantara yang mengalami nasib serupa, seperti Tuanku Imam Bonjol yang diasingkan ke Sulawesi Utara, serta Pangeran Diponegoro yang dibuang jauh dari tanah kelahirannya di Jawa Tengah.
Tak hanya tokoh nasional, Kuningan juga memiliki catatan kelam serupa. Ulama kharismatik Kiai Hasan Maolani turut menjadi korban kebijakan pengasingan dan dikirim ke Tondano, Minahasa. Ia dimakamkan berdampingan dengan Kiai Mojo—menjadi saksi sejarah panjang perjuangan yang terpisah oleh jarak.
Lebih jauh, Fadli mengungkap bahwa Kuningan pada masa lampau juga dijadikan lokasi pembuangan bagi tokoh dari luar daerah. Salah satunya adalah Radja Jaqub Ponto atau Yaqub Konte, yang diasingkan ke wilayah ini pada tahun 1889.
“Selama di pengasingan, beliau bukan hanya dijauhkan, tapi juga dibiarkan hidup dalam keterbatasan hingga akhirnya wafat di sini,” ungkap Fadli.
Pemerintah, lanjutnya, kini tengah mengabadikan jejak sejarah tersebut. Penelusuran titik lokasi yang representatif menjadi bagian dari upaya menghadirkan kembali narasi perjuangan yang sempat terpinggirkan.
Fadli menegaskan, ziarah yang dilakukannya bukan sekadar simbolik. Ia menyebut, merawat situs sejarah dan makam para pejuang merupakan tanggung jawab moral generasi penerus dalam menjaga ingatan kolektif bangsa.
“Melalui upaya ini, kita ingin memastikan bahwa pengorbanan para pejuang tetap hidup dalam kesadaran kita. Dari merekalah, persatuan Nusantara ini dibangun,” pungkasnya. (Bud)
Sumber: rakyat cirebon