Pedagang di Museum Linggarjati Keluhkan Omset Menurun Sejak Tiket Naik
Pedagang sampaikan "unek-unek" yang terkait nasib usaha kecil mereka, Jumat (03/04).--(Rakyat Cirebon)
RAKYATCIREBON.DISWAY.ID, KUNINGAN - Kunjungan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon ke kawasan bersejarah Linggarjati tak hanya membuka peluang revitalisasi, tetapi juga memunculkan suara dari akar rumput. Para pedagang di area parkir objek wisata sejarah itu mengeluhkan anjloknya pendapatan, yang mereka kaitkan dengan kenaikan tarif tiket masuk.
Sejumlah pedagang yang telah lama berjualan di kawasan Gedung Perundingan Linggarjati menyampaikan aspirasi secara langsung, kepada para wartawan yang sedang meliput pada jumat malam. Mereka menyebut, lonjakan harga tiket dari sebelumnya Rp2.000 menjadi Rp10.000 untuk dewasa dan Rp5.000 untuk anak-anak berdampak signifikan terhadap jumlah kunjungan, otomatis pembeli ke lapak mereka pun berkurang.
“Sekarang sepi, pengunjung banyak yang batal masuk. Dulu ramai, sekarang hampir 80 persen berkurang,” ujar Oni, diamini sesama pedagang lainnya.
Mereka sudah lama berjualan di lokasi ini, bahkan ada yang telah berjualan lebih dari 10 tahun di lokasi tersebut.
Ia menilai, sebagai tempat edukasi, museum seharusnya tidak berorientasi pada keuntungan semata.
Keluhan senada disampaikan pedagang lain yang menyebut pendapatan mereka turun drastis. Jika sebelumnya pada momen ramai seperti Lebaran bisa meraup omset jutaan rupiah per hari, kini omset berjualan hanya berkisar di Rp100 ribu, sehingga bisa dibayangkan keuntungannya sangat minim, bahkan kerap tidak menutup biaya operasional harian pedagang.
Tak hanya soal tiket, para pedagang juga mengaku keberatan dengan rencana penerapan retribusi berdasarkan luas lapak. Sebagian pedagang menyatakan keberatan, mengingat kondisi penjualan yang sedang lesu.
Jumlah pedagang di kawasan tersebut tercatat mencapai 27 orang yang tersebar di area parkir. Mereka berharap pemerintah dapat meninjau kembali kebijakan tarif tiket, serta memberikan ruang keberpihakan kepada pelaku usaha kecil yang menggantungkan hidup dari aktivitas wisata edukasi di Linggarjati.
Sementara itu, aspirasi pedagang ini juga mendapat perhatian dari sejumlah pihak yang menilai bahwa fungsi utama kawasan sejarah seperti Gedung Naskah Linggarjati adalah sebagai sarana edukasi, khususnya bagi pelajar. Dengan demikian, penyesuaian tarif dinilai perlu mempertimbangkan daya beli serta tujuan utama kunjungan, agar ekosistem wisata dan ekonomi masyarakat tetap berjalan seimbang.
Keluhan pedagang juga disampaikan pedagang kepada Ketua DPRD Kuningan Nuzul Rachdy, disela kegiatan menyambut menteri Kebudayaan RI.
"Nah, ini aspirasi langsung dari warga. Karena museum atau gedung naskah ini kan tempat untuk edukasi. Segmen di sini mayoritas segmen siswa, pelajar. Jadi tidak layak kalau kita beorientasi kepada profit," jelas Nuzul.
Sebagai wakil rakyat, pihaknya akan segera menyampaikan keluhan pedagang di sekitar museum kepada Pemkab Kuningan. (Bud)
Sumber: rakyat cirebon