Penilaian STS Berbasis Digital Diterapkan di SD, Efisiensi Anggaran Sejalan Digitalisasi Pendidikan

Penilaian STS Berbasis Digital Diterapkan di SD, Efisiensi Anggaran Sejalan Digitalisasi Pendidikan

EFISIENSI. Dinas Pendidikan Majalengka menerapkan kebijakan penilaian Sumatif Tengah Semester berbasis digital untuk tingkat sekolah dasar.--

RAKCER.DISWAY, MAJALENGKADinas Pendidikan Kabupaten Majalengka mulai menerapkan Penilaian Sumatif berbasis digital di seluruh sekolah dasar sejak Senin, 6 April 2026.

 

Penilaian yang tengah berjalan saat ini merupakan penilaian Sumatif Tengah Semester (STS), sebagai bagian dari upaya efisiensi anggaran sekaligus mendorong digitalisasi proses pembelajaran.

 

Kebijakan ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo yang menekankan pentingnya digitalisasi pendidikan.

BACA JUGA:10 Wisata Alam Majalengka Paling Instagramable untuk Libur Lebaran 2026: Destinasi yang Memanjakan Mata

 

Salah satu wujud komitmen tersebut adalah pengiriman perangkat Interaktif Flat Panel (IFP) ke sekolah-sekolah untuk mendukung proses pembelajaran dan penilaian.

 

Pelaksanaan STS di Majalengka dibedakan berdasarkan jenjang kelas. Untuk siswa kelas 1 hingga kelas 3, penilaian menggunakan Interaktif Flat Panel (IFP).

 

Soal ditampilkan di depan kelas melalui layar dan dipandu langsung oleh guru, sementara siswa menjawab pada lembar jawaban yang telah disediakan.

 

Sementara itu, siswa kelas 4 hingga kelas 6 melaksanakan penilaian secara digital menggunakan handphone.

BACA JUGA:Hasil SPAN-PTKIN 2026 Diumumkan, Lebih dari 82 Ribu Peserta Lolos Seleksi Tanpa Tes

 

Berbagai aplikasi digunakan dalam proses ini, di antaranya Google Form, Moodle, Web CBT, dan Web DAAI Score yang telah disiapkan oleh sekolah.

 

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka, Rd Umar Maruf menjelaskan bahwa penerapan sistem ini tidak hanya mendukung arah kebijakan nasional, tetapi juga menjadi langkah konkret dalam meningkatkan efisiensi penggunaan anggaran pendidikan.

 

“Dengan sistem digital, biaya operasional seperti pencetakan soal bisa ditekan. Anggaran dari dana BOS yang sebelumnya digunakan untuk kebutuhan tersebut dapat dialihkan ke pos lain yang lebih produktif,” ujar Umar.

 

Penggunaan IFP untuk kelas bawah juga menjadi bagian dari optimalisasi bantuan pemerintah pusat, sehingga proses pembelajaran dan penilaian dapat berjalan lebih interaktif.

BACA JUGA:Potensi TGR LHP BPK Disdikbud, DPRD Kuningan Segera Panggil Sejumlah Pejabat

 

Untuk memastikan seluruh siswa dapat mengikuti penilaian tanpa kendala, sekolah turut menyiapkan berbagai fasilitas pendukung. Mulai dari peminjaman handphone, hingga penyediaan jaringan internet, agar tidak ada siswa yang tertinggal.

 

Ketua Koordinator Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Majalengka, Ading menegaskan bahwa penerapan ini sekaligus menjadi bagian dari implementasi digitalisasi pendidikan di tingkat sekolah dasar.

 

“Untuk kelas 1, 2, dan 3 menggunakan Interaktif Flat Panel, di mana soal ditampilkan di depan kelas dan dipandu guru, sementara siswa menjawab di lembar jawaban. Sedangkan kelas 4, 5, dan 6 sudah menggunakan berbagai aplikasi seperti Google Form, Moodle, Web CBT, hingga Web DAAI Score dengan perangkat handphone,” kata Ading.

Sumber: