Sampah Masih Jadi Masalah, DPRD Minta Langkah Nyata
RAPAT. Komisi III DPRD Kabupaten Cirebon menyoroti persoalan sampah saat menggelar rapat kerja, Jumat (6/3). FOTO : ZEZEN ZAENUDIN ALI/RAKYAT CIREBON--
RAKYATCIREBON.DISWAY.ID – Sampah masih menjadi masalah. Hingga kini, masih mudah menemukan sampah liar menumpuk di pinggir jalan hingga bantaran sungai. Sampah, belum tertangani.
Hal itu menjadi sorotan dalam rapat Komisi III DPRD Kabupaten Cirebon bersama Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Baperida), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Jumat (6/3).
Sorotan itu, salah satunya disampaikan Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Cirebon, Supriyadi. Katanya, masih banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Kondisi ini membuat titik pembuangan sampah liar terus bermunculan.
“Masih banyak sampah liar di jalan dan pinggir sungai. Contohnya di wilayah Babakan, warga masih membuang sampah di pinggir jalan. Itu yang menjadi masalah utama,” ujarnya.
Ia menilai penanganan sampah tidak cukup hanya dengan mengangkut sampah. Pemerintah daerah harus membangun sistem pengelolaan yang jelas dan berkelanjutan.
Supriyadi pun meminta Baperida memaparkan kajian terkait langkah strategis penanganan sampah. Ia berharap pembahasan tersebut tidak hanya berhenti pada perencanaan.
“Jangan hanya planning. Harus ada realisasi,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Baperida Kabupaten Cirebon, Dangi SSi MSc MT mengakui persoalan sampah sudah berkali-kali dibahas. Namun hingga kini belum memberikan perubahan yang signifikan.
Menurutnya, rapat tersebut diharapkan bisa menjadi dasar penyusunan program penanganan sampah, termasuk kemungkinan penganggaran pada 2027.
“Pembahasan soal sampah sudah sering dilakukan. Tapi kenapa belum juga signifikan,” katanya.
Dangi menilai pengelolaan sampah di Kabupaten Cirebon masih sebatas pengangkutan. Padahal sejumlah daerah sudah menerapkan sistem pengelolaan yang lebih modern dan terintegrasi.
Ia mencontohkan Kota Surabaya yang memberikan insentif kepada masyarakat yang berhasil mengelola sampah dengan baik.
“Di Surabaya ada sistem analisis pengelolaan sampah. Jika berhasil, masyarakat diberi reward,” jelasnya.
Sementara di Kota Bandung, pemerintah menyiapkan tenaga pendamping yang bertugas mengedukasi masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah.
“Di Bandung ada pendamping yang mengedukasi warga memilah sampah. Skemanya jelas, bahkan disediakan alat seperti mesin pencacah dan pemilah,” ungkapnya.
Menurut Dangi, beberapa daerah bahkan sudah memanfaatkan teknologi pengolah sampah yang mampu menangani puluhan ton sampah setiap hari. Karena itu, penanganan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada Dinas Lingkungan Hidup. Seluruh organisasi perangkat daerah harus terlibat.
“Selama ini DLH seperti bekerja sendiri. Seharusnya semua instansi ikut membantu penanganan sampah,” katanya.
Selain itu, diperlukan pendampingan hingga tingkat RT dan RW agar masyarakat terbiasa memilah sampah dari rumah. Ada berbagai model pengelolaan sampah yang bisa diterapkan, termasuk kerja sama dengan pihak swasta untuk mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif atau energi listrik.
Namun hingga kini, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cirebon belum menentukan pola pengelolaan sampah yang akan diterapkan. “Kami masih menunggu dari DLH ingin menggunakan pola pengelolaan seperti apa. Setelah itu baru kami susun programnya,” pungkasnya. (zen)
Sumber: