DKP3 Stop BLT DBHCHT Petani Tembakau

DKP3 Stop BLT DBHCHT Petani Tembakau

RUGI. Petani tembakau di wilayah selatan Majalengka banyak yang melelang hasil panen, dan sedikit diantaranya yang mengolah hingga kering.--

RAKYATCIREBON.IDMAJALENGKA - Petani tembakau di Kabupaten Majalengka mengalami kerugian cukup tinggi akibat kualitas tembakau yang turun drastic, hal itu karena dampak dari cuaca ekstrim. Akibatnya harganya merosot hingga mencapai Rp7.000 hingga Rp20.000 per kg tembakau kering.

Menurut keterangan Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia Jojo Sutarjo, rendemen tembakau tahun ini hanya mencapai 12 persen hingga 15 persen dari biasanya ketika cuaca bagus rendemen bisa mencapai 18 persen hingga 20 persen. Sementara harga jual ketika cuaca bagus mencapai Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogram tembakau kering. Tahun ini luas areal tanam tembakau sendiri hanya sekitar 1.200 hektare.

“Sekarang mah karena tembakau kualitasnya kurang baik pengaruh cuaca ekstrim, harga ada yang mencapai Rp7.000, petani juga terpaksa menjual karena butuh uang. Untuk harga tertinggi hanya Rp20.000 per kilo,” ungkap Jojo.

Cuaca buruk dan sulit mengolah daun untuk mengeringkan tembakau menurut Jojo membuat lebih banyak petani yang terpaksa melelang kebun dengan harga murah di bawah harga produksi. Yang melakukan panen rajang kering hanya beberapa desa saja seperti Malausma, Babakansari, Mekarmulya, Sinargalih, Cisalak, Bantarujeg dan Gununglarang. Sedangkan petani di puluhan desa lainnya melelangkan kebun.

“Untuk sekarang ini petani di Desa Sukajadi yang merajang hanya 10 persen, selebihnya jual daun atau lelang kebun dengan harga per pohon antara Rp2.000 hingga Rp3.000 tergantung kualitas, sementara biaya produksi per pohon sekitar Rp2.000. Sindanghurip juga demikian paling hanya 20 persenan,” ungkap Jojo yang di wilayahnya di Bantarujeg kini tengah puncak musim panen tembakau.

Tingginya kerugian yang diderita petani menurut Jojo, selain cuaca ekstrim juga harga pupuk kini tinggi, karena petani tembakau tidak bisa menggunakan pupuk bersubsidi. Harga pupuk yang dibeli petani adalah Rp18.000 per kg, atau pupuk NPK Fertila yang harganya Rp12.500-Rp 13.000 per kg. Namun menggunakan pupuk jenis tersebut harus ditambah ZA sehingga jatuhnya harga pupuk tetap mahal.

Untuk menekan biaya produksi, para petani kini butuh pupuk bersubsidi dan oven sebagai solusi untuk mengatasi cuaca buruk. Oven yang dibutuhkan berukuran 10 x 12 agar bisa lebih banyak petani yang memanfaatkan oven. Dengan pengovenan tersebut kualitas warna dan rasa tembakau bisa sama dengan tembakau jemur.

“Kami petani tembakau kerap memperhatikan prakiraan cuaca dari BMKG tapi kadang meleset, dengan oven bisa jadi solusi baik,” kata Jojo.

Menyinggung soal dana DBHCHT Jojo berharap, pemerintah bisa menyediakan oven serta menyediakan BPJS bagi para petani.

Sementara itu Pemerintah Kabupaten Majalengka mulai tahun ini hanya akan mensentralisasi kawasan pertanian tembakau di tiga kecamatan yakni Lemahsugih, Bantarujeg serta Malausma yang secara rutin melakukan penanaman tembakau.

Perhatian pemerintah akan difokuskan kepada petani-petani di wilayah tersebut mengingat wilayah lainnya seperti Kecamatan Kertajati dan Majalengka, walaupun produksinya cukup tinggi namun petani di wilayah tersebut tidak secara rutin melakukan penanaman.

Bantuan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) pun menurut keterangan Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Majalengka, Iman Firmansyah hanya akan diberikan bagi para petani di tiga kecamatan.

Tahun ini menurut Iman, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) mendapatkan dana DBHCHT sebesar Rp2,8 miliar, dan tersebut akan dimanfaatkan untuk pelatihan para petani, bimtek, studi banding para petani serta sarana pembangunan jalan di kawasan perkebunan tembakau.

Pembangunan jalan dinilai penting mengingat selama ini tembakau hasil petik petani diangkut oleh buruh dengan cara ditanggung atau panggul. Hal ini cukup membebani petani karena buruh angkut bisa mahal.

“Untuk wilayah Lemahsugih, Bantarujeg juga Malausma tidak semua perkebunan tembakau jaraknya dekat ke jalan, kebanyakan perkebunan arealnya di gunung atau sawah yang kondisinya naik turun melintasi pematang. Kalau nanti dibangun jalan ke areal perkebunan ini akan memudahkan pengangkutan, upah kerja bisa ditekan,” ungkap Iman.

Disampaikan Iman, tahun lalu petani telah mendapatkan BLT dari DBHCHT yang diterima sebanyak 1.996 petani. Tahun ini BLT dihentikan dan dana DBHCHT difokuskan pada pembangunan sarana prasarana pembangunan jalan, dan bimbingan teknis agar para petani tembakau bisa lebih memiliki teknologi pengolahan tembakau. (hsn)

Sumber: