Pemprov Jabar Resmikan 2 Lumbung Padi di Kabupaten Cirebon, Kearifan Lokal yang Dikelola Secara Digital

Pemprov Jabar Resmikan 2 Lumbung Padi di Kabupaten Cirebon, Kearifan Lokal yang Dikelola Secara Digital

Kadis DPMD Jawa Barat, Dicky Saromi (tengah) didampingi Kadis DPMD Kabupaten Cirebon Nanan Abdul Manan (paling kiri) usai acara peresmian leuit di Desa Tersana Kecamatan Pabedilan.--

RAKYATCIREBON.ID, PABEDILAN – Pemerintah Provinsi Jawa Barat meresmikan lumbung pangan atau leuit di Kecamatan Pabedilan Kabupaten Cirebon, Selasa (22/8).

Leuit masuk dalam program Tapal Desa (Ketahanan Pangan Desa Digital). Leuit atau lumbung padi nanti akan dikelola secara digital oleh pemerintah desa tersebut.

Leuit merupakan salah satu kearifan lokal yang kembali dimunculkan lagi oleh Gubernur Ridwan Kamil dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga.

 

Di Kabupaten Cirebon ada dua desa yang sudah dibangun rumah ketahanan pangan, yakni di Desa Tersana dan Desa Babakan Losari, keduanya ada di Kecamatan Pabedilan.

Program ini ide dari Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil untuk menumbuhkan kembali kearifan lokal di Jawa Barat. Dulu ada istilah leuit, yakni tempat menyimpan persediaan beras bagi masyarakat.

Leuit, bentuknya mirip rumah panggung mini berbahan kayu, lengkap dengan atap yang terbuat dari ijuk atau daun kirai. Namun ada juga yang atapnya menggunakan asbes. Namun sekarang lebih modern, digitalisasi, rumah ketahanan pangan yang bisa dikelola.

"Pangan adalah komditi strategis. Kita sediakan tempatnya untuk masyarakat menabung pangan. Dulu, budaya nenek moyang untuk menyimpan  hasil panennya, tidak semuanya dijual, nanti suatu saat dibutuh maka akan dijual," kata  Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Jawa Barat, Dicky Saromi didampingi Kadis DPMD Kabupaten Cirebon Nanan Abdul Manan.

Kapasitas satu unit leuit atau lumbung pangan 5 sampai dengan 10 ton. Nanti akan dikelola secara digital, termasuk data  potensi pangan, berapa jumlah padi yang tersedia dalam lumbung, berapa kapasistas, dan jumlah keluarga yang rawan pangan.

“Semuanya akan diketahui secara digital datanya,” kata Dikcy Saromi.(*)

Sumber: