Sehari, Bisa Tiga Bungkus Kiriman Apem, Anak Muda Lestarikan Tradisi Bulan Safar

Sehari, Bisa Tiga Bungkus Kiriman Apem, Anak Muda Lestarikan Tradisi Bulan Safar

RAKYATCIREBON.ID - Tradisi pembuatan apem yang biasa dilakukan pada bulan Safar di Desa Bantarwaru, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka hingga kini masih terus berlanjut. Bahkan sejumlah anak muda menggelar festival apem agar tradisi terus dilakukan anak muda, Minggu (3/10).

Apem merupakan makanan khas yang terbuat dari tepung beras, pembuatannya bisa digarang semacam kue serabi atau bisa juga dikukus. Adonannya pun nyaris sama bedanya apem dibuat dengan campuran ragi serta melalui fermentasi.

Menurut keterangan warga Bantarwaru, Yayah, apem dibuat dari tepung beras dicampur ragi dan nasi liwet yang lembek.

Semua bahan diaduk hingga larut selama lebih dari setengah jam. Setelah itu adonan disimpan dalam wadah berupa jolang, baskom atau panci sambil ditutup rapat selama kurang lebih dua jam agar mengembang. Setelah adonan mengembang baru apem dimasak melalui cetakan dengan api sedang.

Sausnya menggunakan godokan gula merah, gula putih dan campuran parut kelapa hingga wangi.

Cara makannya apem di simpan di piring dan disiram saus manis. Bisa juga apem dimasukan ke saus manis tersebut.

Apem yang dibuat warga tersebut biasa dibagikan kepada para tetangga. Semua tetangga bisa saling hantar dan semua bisa menikmatinya.

“Dalam sehari bisa ada tiga bungkus kiriman apem jika lagi musim. Satu bungkus bisa isi empat atau lima buah,” kata Yayah.

Menurutnya, pembuatan apem biasa juga dilakukan secara berkelompok. Misalnya apem dibuat oleh tiga atau lima keluarga. Setiap keluarga bisa saling menyumbang.

Misalnya ada yang menyumbang beras 1 atau 2 kg, ada pula yang hanya beras sakati (satu liter) ditambah uang Rp5.000 atau ada yang hanya menyumbang kelapa dan gula. Pembuatannya dilakukan secara bersama-sama.

“Belakangan pembuatannya dilakukan bersama-sama, mulai jarang yang membuat sendiri-sendiri,” ungkap Ami.

Disampaikan Juju, Yayah dan Ami, pembuatan dan saling hantar apem di wilayahnya sudah berlangsung secara turun temurun dari nenek moyang mereka hingga sekarang.

Mereka tidak mengetahui secara persis bagaimana sejarah apem dibuat oleh nenek moyang mereka. Hanya katanya ada yang menyebut bahwa apem dulu dibuat oleh Sunan Kalijaga, yang saat itu baru pulang dari Makkah.

Kemudian, melihat warganya yang nyaris kelaparan, melihat kondisi itu kemudian Sunan Kalijaga memerintahkan untuk membuat apem dan dibagikan kepada warga.

Sumber: