Kenapa Hari Tasyrik Dilarang Berpuasa? Ini Alasan dan Dalil Shahihnya
Kenapa Hari Tasyrik Dilarang Berpuasa? Ini Alasan dan Dalil Shahihnya. Foto: Pinterest/Rakyatcirebon.disway.id--
RAKYATCIREBON.DISWAY.ID – Gema takbir Idul Adha biasanya masih menyisakan kehangatan di tengah keluarga, bahkan ketika hari raya pertama telah berlalu.
Bagi umat Muslim, setelah melewati tanggal 10 Dzulhijjah, kita akan memasuki tiga hari istimewa yang disebut sebagai hari tasyrik.
Tepat pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, ada sebuah aturan ibadah yang cukup unik dan berbeda dari hari-hari biasanya, yaitu larangan mutlak untuk menunaikan ibadah puasa, baik puasa sunnah maupun puasa wajib seperti qadha.
Bagi sebagian orang, aturan ini mungkin memicu pertanyaan. Mengapa ibadah menahan lapar dan dahaga yang biasanya mendatangkan pahala besar justru menjadi hal yang terlarang di waktu-waktu ini?
BACA JUGA:Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah 2026, Lengkap dengan Tata Cara Melaksanakannya
Untuk menjawab rasa penasaran tersebut, mari kita bahas bersama alasan logis, makna spiritual, serta deretan dalil shahih yang mengatur hukum larangan berpuasa di hari tasyrik.
Alasan Utama Larangan Berpuasa di Hari Tasyrik
Islam adalah agama yang penuh dengan keseimbangan.
Ada kalanya seorang hamba diminta untuk menahan diri melalui lapar, seperti di bulan Ramadan, namun ada kalanya pula mereka diperintahkan untuk merayakan nikmat fisik secara nyata. Hari tasyrik adalah representasi dari waktu perayaan tersebut.
Alasan paling mendasar mengapa kita dilarang berpuasa di hari tasyrik adalah karena hari-hari ini merupakan waktu jamuan makan dan minum dari Allah SWT kepada hamba-Nya.
Setelah para jemaah haji menyelesaikan rukun-rukun berat di tanah suci, dan umat Muslim di seluruh dunia berkorban dengan menyembelih hewan, Allah memberikan waktu jeda untuk menikmati hasil kurban tersebut.
BACA JUGA:Daftar Tanggal Merah Juni 2026, Siap-Siap Atur Jadwal Libur Panjang!
Secara harfiah, kata "tasyrik" sendiri merujuk pada tradisi menjemur daging dendeng di bawah terik matahari pada zaman dahulu agar tidak membusuk.
Oleh karena itu, menghormati hidangan dan menunjukkan rasa syukur dengan cara menikmati makanan adalah bentuk kepatuhan tertinggi seorang hamba pada hari-hari ini.
Menolak makan dengan cara berpuasa justru dianggap menyelisihi maksud dari jamuan yang telah Allah sediakan.
Landasan Dalil Shahih dari Hadis Rasulullah SAW
Sumber: