Celengan Kelas Menengah Kian Tipis

Celengan Kelas Menengah Kian Tipis

Alvita Rachma Devi (Penulis adalah Analis Yunior di Unit Sistem Pembayaran, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cirebon)--

*Oleh: Alvita Rachma Devi (Penulis adalah Analis Yunior di Unit Sistem Pembayaran, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cirebon)

“Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.” 

Peribahasa ini diajarkan sejak kita duduk di bangku sekolah dasar, sering kali sebagai ajakan untuk menabung. Namun, bagi banyak orang, nasihat itu semakin sulit dijalankan. Gaji kerap habis sebelum akhir bulan. Jangankan untuk menabung, banyak keluarga masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari, di atas garis yang sangat tipis. 

Seberapa tipis garis itu? Pada Maret 2026, Badan Pusat Statistik mencatat garis kemiskinan Rp669.235 per orang per bulan. Artinya, nominal tersebut harus dipenuhi untuk dapat mencukupi kebutuhan dasar. Mirisnya, ambang itu terus bergeser naik. Garis kemiskinan naik 4,33% hanya dalam enam bulan, dan hampir tiga perempatnya ditentukan oleh harga makanan. Tekanan juga tecermin pada inflasi September 2026 sebesar 3,28% (yoy), yang didorong oleh kenaikan bahan pokok seperti cabai, daging ayam ras, beras, dan telur.

Kelas menengah ikut merasakan tekanan itu. BPS menggolongkan seseorang masuk ke kelas menengah jika pengeluarannya paling sedikit 3,5 kali garis kemiskinan, atau sekitar Rp2,34 juta per orang per bulan. Sementara itu, pengeluaran penduduk perkotaan rata-rata hanya sebesar Rp1,90 juta, sekitar Rp440.000 di bawah batas tersebut. Naik kelas kian sulit, sedangkan mereka yang sudah berada di kelas menengah mudah tergelincir.

Tak heran jika kelas menengah kini berada dalam mode bertahan hidup (survival mode). Survei Konsumen Bank Indonesia September 2026 menunjukkan porsi pendapatan untuk konsumsi naik menjadi 74,9%, sementara tabungan turun menjadi 15,4%. Celengan pun kian tipis. Ketika tabungan tergerus, mau tidak mau sebagian orang mulai berutang. Hingga Agustus 2026, pinjaman daring mencapai Rp106,94 triliun atau tumbuh sekitar 22 persen dalam setahun, dengan kredit macet naik ke 4,73 persen. Kekurangan di tanggal tua kini ditambal dengan pinjaman. 

Terjepit di Tengah

Terlalu mampu untuk menerima bantuan sosial, tetapi terlalu rapuh untuk menahan guncangan. Berada di kelas menengah bukan jaminan hidup aman secara finansial.  Inilah yang oleh OECD disebut middle class squeeze, yakni kondisi ketika kelas menengah terhimpit kenaikan biaya hidup yang tidak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan. Tekanan ini bukan sekadar persepsi. Di negara-negara OECD, lebih dari satu dari lima rumah tangga kelas menengah lebih banyak pengeluaran dibandingkan pendapatannya.

Ketika penghasilan habis untuk kebutuhan rutin, ruang menabung dan menghadapi pengeluaran tak terduga kian terbatas. 

Posisi ini membuat kelas menengah kerap menjadi yang pertama merasakan perubahan harga dan kebijakan. Sebagian besar dari mereka pekerja formal, sehingga pajak dan iuran langsung dipotong dari gaji. Susenas Maret 2026 mencatat pengeluaran untuk pajak, pungutan, dan asuransi naik 6,43 persen. Di sisi lain, barang dan jasa mereka beli dengan harga pasar, tanpa subsidi atau bantuan.

In this economy, banyak orang terpaksa menurunkan gaya hidup untuk bisa bertahan. Nongkrong di kafe beralih jadi kopi saset, staycation di luar kota bergeser ke piknik di taman. Bahkan, merek sabun favorit pun mulai berganti ke produk yang lebih murah, meski kualitasnya tak sebanding. 

Survei Populix pada Juli 2026 mencatat 53 persen responden telah memangkas anggaran belanja kebutuhan harian. Sebanyak 47 persen menghemat biaya transportasi, dan 31 persen mengurangi tagihan listrik, gas, dan air. 

Padahal, imbas penurunan gaya hidup ini merambat ke luar rumah. Konsumsi rumah tangga menopang lebih dari separuh perekonomian, dimana kelas menengah adalah salah satu penggerak utamanya. Setiap belanja yang tertunda berarti omzet yang hilang bagi warung, pedagang pasar, dan pelaku usaha kecil di sekitarnya. 

Karena itu, stimulus juga perlu menjangkau kelompok ini. Diskon tiket kereta dan kapal pada libur Natal dan Tahun Baru, program magang nasional bagi lulusan baru, serta pelatihan kompetensi bagi lulusan SMK dan pekerja terdampak PHK adalah contoh bantalan yang relevan bagi kelas menengah.

Sumber: