CIREBON - Selama bulan September kemarin, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat terjadi empat kejadian bencana di wilayah Kota Cirebon.
Dominasi bencana non alam pada bulan September lalu dengan tiga kejadian berupa rumah ambruk. Sementara satu kejadian lainnya adalah pohon tumbang.
"Dari peristiwa tersebut, tercatat tiga rumah mengalami kerusakan dan 11 jiwa terdampak," demikian disampaikan Kepala Pelaksana BPBD Kota Cirebon, Andi Wibowo.
BACA JUGA:Tutup Akses Jalan, Warga Trusmi Land Bongkar Bangunan Semi Permanen
Jika dihitung sejak awal Januari lalu, lanjut Andi, selama 2025 hingga bulan September, pihaknya mencatat asa 110 kejadian bencana.
Dari jumlah tersebut, bencana pohon tumbang menjadi kejadian paling dominan dengan 54 kejadian.
Kemudian, dominasi kedua, kebencanaan di Kota Cirebon selama 2025 tercatat ada 31 rumah ambruk akibat faktor cuaca dan kondisi bangunan yang sudah tua.
BACA JUGA:Fantastis! 6 Bulan Beroperasi, Kolam Renang Matangaji Sumbang PAD Rp 270 Juta
Selain pohon tumbang dan rumah ambruk, BPBD juga mencatat 8 kejadian cuaca ekstrem, 7 kejadian banjir, 4 kejadian tanah longsor, 3 kebakaran lahan, 2 operasi SAR, serta 1 kejadian banjir rob.
"Total ada 110 kejadian sepanjang Januari sampai September 2025. Paling banyak memang pohon tumbang dan rumah ambruk," lanjut Andi.
Masih tingginya angka kebencanaan di Kota Cirebon ini, dijelaskan Andi, menjadi pengingat bahwa bencana bisa terjadi kapan saja dan dimana saja.
Maka, sisi kesiapsiagaan harus ditekankan, dan masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan sigap dalam menghadapi segala potensi yang ada, termasuk kondisi cuaca ekstrem.
"Mari bersama-sama menjaga lingkungan, mengurangi potensi bahaya, dan segera melaporkan kejadian darurat melalui layanan BPBD Kota Cirebon," jelas Andi.
BPBD sendiri, kata Andi, terus melakukan langkah-langkah proaktif dan terpadu dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah saat ini.