Hantorro juga melontarkan kritik kepada DPRD Kabupaten Cirebon. Menurutnya, fungsi pengawasan dewan belum terlihat dalam penyelesaian persoalan tersebut.
"Dewan ke mana? Kok diam saja? Kalau dinas tidak mampu bergerak maksimal, DPRD seharusnya menjalankan fungsi pengawasan. Tapi sampai sekarang warga tidak melihat ada tekanan atau langkah nyata untuk menyelesaikan masalah ini," tegasnya.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Jaenudin. Ia menilai penanganan yang dilakukan selama ini hanya bersifat sementara. Belum menyentuh akar persoalan.
Menurutnya, pengangkutan sampah yang dilakukan tidak jauh berbeda dari aktivitas rutin sebelumnya. Warga, kata dia, tidak pernah menuntut penutupan total TPS tersebut.
Yang diharapkan masyarakat adalah komitmen pemerintah agar TPS berfungsi sesuai peruntukannya sebagai tempat penampungan sementara.
"Jadi sampahnya diangkut secara teratur ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA)," katanya.
Jaenudin menegaskan, persoalan di TPS Kecomberan bukan hanya berasal dari sampah warga PCL. Juga menampung sampah dari berbagai wilayah sekitar, sehingga volume yang masuk jauh melebihi kapasitas.
Selain bau menyengat, warga juga mengeluhkan asap dari pembakaran sampah. Pasalnya itu kerap dilakukan untuk mengurangi volume tumpukan.
Asap itu dinilai memperburuk kualitas udara. Berpotensi mengganggu kesehatan warga. Masyarakat berharap pemerintah daerah segera menyiapkan langkah konkret. Berkelanjutan.
BACA JUGA:Darurat Sampah! TPS Kecomberan Menggunung Lagi, Warga PCL Murka
"Agar persoalan penumpukan sampah tidak terus berulang," tuturnya.
Warga juga meminta frekuensi pengangkutan sampah ditingkatkan. Sehingga TPS dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Yakni sebagai lokasi penampungan sementara. Bukan tempat penumpukan berkepanjangan.
Kritik serupa disampaikan Ketua RW 07 Perumahan Puri Cirebon Lestari, Yeyet Nurhayati SPd. Ia meminta pemerintah daerah berhenti menjual janji dan segera menghadirkan solusi nyata.
Menurutnya, kondisi TPS yang terus menggunung tidak hanya mengganggu kenyamanan warga, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan.
Saat cuaca panas, bau busuk menyebar ke lingkungan permukiman. Populasi lalat pun meningkat dan mengganggu aktivitas masyarakat.
"Kami tidak butuh janji. Kami butuh tindakan. Jangan sampai warga terus menjadi korban dari buruknya pengelolaan sampah yang tak kunjung beres," katanya.