CIREBON, RAKYATCIREBON.DISWAY.ID — Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) tidak cukup hanya menjadi konsep yang tertuang dalam dokumen kebijakan pendidikan.
Nilai kasih sayang, empati, keteladanan, kepedulian, dan penghargaan terhadap sesama perlu diwujudkan dalam praktik pendidikan sehari-hari.
Hal itu menjadi perhatian tim peneliti UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon melalui penelitian implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di MAN 1 Cirebon, Selasa (1/9/2026).
Tim peneliti yang terdiri atas Dr. Jaja Suteja, M.Pd.I., Bambang Setiawan, M.Pd., Herny Novianti, M.Pd., dan Ahmad Sofyan Bustomi melakukan kunjungan ke MAN 1 Cirebon untuk menggali bagaimana nilai-nilai Kurikulum berbasis cinta diterapkan dalam kehidupan madrasah.
Penelitian tersebut tidak sebatas melihat apakah Kurikulum Berbasis Cinta telah diterapkan.
Tim juga menggali bagaimana nilai cinta diterjemahkan dalam pengelolaan kurikulum, proses pembelajaran, interaksi antara guru dan peserta didik, hingga budaya madrasah.
Kepala MAN 1 Cirebon H. Soif, S.Ag., M.Pd., bersama Wakil Kepala Madrasah bidang Kurikulum Ashril Fath turut memberikan informasi mengenai praktik pendidikan yang berlangsung di lingkungan madrasah.
Dialog antara tim peneliti dengan pihak madrasah menjadi ruang untuk bertukar pengalaman sekaligus menggali praktik pendidikan yang mencerminkan nilai kasih sayang, empati, penghargaan, keteladanan, dan kepedulian.
Tim peneliti menilai penerapan kurikulum memiliki dinamika yang berbeda di setiap madrasah.
Karakter peserta didik, kepemimpinan madrasah, kompetensi guru, serta budaya yang telah berkembang menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi implementasi KBC.
Karena itu, pengalaman MAN 1 Cirebon menjadi salah satu sumber penting untuk memahami penerapan Kurikulum Berbasis Cinta secara lebih kontekstual.
Penelitian difokuskan pada nilai-nilai yang diterapkan, pola interaksi, strategi pembelajaran, keteladanan guru, serta budaya madrasah.
Implementasi KBC tidak hanya dilihat melalui perangkat pembelajaran, tetapi juga dari cara guru mendidik, memperlakukan peserta didik, menghargai perbedaan, dan membangun empati.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ISBI Bandung, Indra Ridwan, S.Sos., M.Sn., M.A., Ph.D., menilai pendidikan yang berbasis nilai harus mampu membentuk karakter peserta didik, bukan sekadar mengejar pencapaian akademik.
Menurutnya, proses pendidikan perlu memberikan ruang bagi tumbuhnya sikap saling menghargai, empati, keteladanan, dan kepedulian terhadap sesama.