Layanan Puskesmas 24 Jam Terkendala Kebutuhan SDM

Layanan Puskesmas 24 Jam Terkendala Kebutuhan SDM

Dinas Kesehatan saat menyampaikan laporan progres persiapan layanan Puskesmas 24 jam kepada Komisi III, masih ada sejumlah kendala salahsatunya SDM. FOTO: ASEP SAEPUL MIELAH/ RAKYAT CIREBON--

CIREBON - Dinas Kesehatan Kota Cirebon mengaku belum siap untuk menerapkan pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) 24 jam di Puskesmas. 

Pasalnya, masih banyak hal yang perlu dipersiapkan, mulai dari sarana dan prasarana, hingga sumber daya manusia. 

Jawaban tersebut sebagaimana disampaikan Kepala Dinas Kesehatan, dr Siti Maria Listiawaty saat rapat dan ditanyai soal kesiapan oleh Komisi III DPRD Kota Cirebon, kemarin. 

BACA JUGA:Plafon Pinjaman hingga Rp 500 Juta: Syarat dan Simulasi Cicilan Kredit Usaha Rakyat BRI 2026

Untuk sementara ini, lanjut dr Maria, dari seluruh Puskesmas yang ada di Kota Cirebon, baru satu yang didorong untuk bisa mulai membuka layanan IGD 24 jam, yakni Puskesmas Gunung Sari. 

"Menjelang Puskesmas 24 jam, sementara kami persiapkan Puskesmas Gunung Sari untuk IGD 24 jam. Untuk bangunan Alhamdulillah baru, kita ingin perkuat dengan IGD 24 jam," ungkap dr Maria. 

Yang saat ini sudah berjalan, dijelaskan dr Maria, sebetulnya Puskesmas Gunung Sari sudah menerapkan layanan IGD 24 jam, namun baru untuk layanan persalinan dengan ke gawat daruratan tingkat dasar. 

BACA JUGA:Tampil Lebih Berani Apple Luncurkan Warna Merah Glamor Pada iPhone 18 Pro

Maka, kedepan Komisi III ingin mendorong agar layanan IGD 24 jam di Puskesmas Gunung Sari bukan hanya untuk persalinan, namun juga untuk kegawat daruratan lain. 

"Saat ini sudah berjalan untuk persalinan, dan kami ingin juga untuk non persalinan. Tapi butuh dukungan nakes tambahan," jelas dr Maria. 

dr Maria pun sudah merinci angka kebutuhan SDM, untuk kedepan Puskesmas Gunung Sari bisa menerapkan layanan IGD 24 jam. 

BACA JUGA:Spesifikasi & Harga Samsung Galaxy S26 Ultra

Masih butuh lima dokter umum, butuh sembilan perawat, vitih empat orang bidan, butuh dua orang tenaga gizi, satu orang tenaga kesehatan lingkungan, butuh dua orang Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM), tiga asisten apoteker, tiga Satpam hingga tenaga kebersihan dan sopir ambulance. 

Atas kebutuhan tersebut, dr Maria pun meminta kepada Komisi III untuk ikut memfasilitasi dan mendorong dari sisi penganggaran, karena untuk pengadaan SDM, Dinkes sudah berkoordinasi dengan BKPSDM namun masih belum menemukan solusi. 

Sumber: