Tembus Pasar Dunia, Kopi Java Buana Ciremai Bangkit dari Trauma Tanam Paksa
PETIK MERAH. Rasa dan aroma Kopi Java Buana Ciremai yang khas diperoleh dari standar ketat, salah satunya petik merah. Kepala KPw BI Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis, menunjukan butir kopi siap panen. FOTO : SUWANDI/RAKYAT CIREBON--
Taufik menambahkan, pada fase awal pertumbuhan (vegetatif) digunakan formula NPK seimbang 16-16-16. Sedangkan pada fase berbunga (generatif awal), komposisi NPK menjadi 9-20-25. Kemudian fase berbuah (generatif murni) digunakan formula NPK dengan perbandingan 9-25-25.
Melalui perpaduan nutrisi yang terukur dan sinergi berkelanjutan bersama peternak lokal, MPIG Buana Ciremai optimistis dapat menjaga daya tahan tanaman sekaligus mempertahankan kualitas hasil panen kopi secara berkelanjutan.
Selain meningkatkan unsur hara, pemupukan yang tepat dapat memperkokoh akar pohon kopi. Sehingga berfungsi efektif mencegah bencana tanah longsor bila dibandingkan dengan tanaman hortikultura musiman di lahan terasering.
Dukungan Holistik Bank Indonesia: Hulu ke Hilir
Dukungan penuh dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Cirebon sejak 2024 menjadi oasis baru bagi para petani kopi yang nyaris putus asa. Kepala KPw BI Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis, menjelaskan pendampingan Bank Indonesia fokus pada penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas produksi, hingga perluasan akses pasar.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah pembentukan kelembagaan MPIG Java Buana Ciremai yang saat ini diketuai Taufik. Langkah ini krusial untuk memberikan identitas khas yang melekat pada produk kopi asal kawasan tersebut.
"Kami membentuk MPIG Java Buana Ciremai agar kopi-kopi yang dihasilkan di sekitar kawasan ini memiliki identitas yang kuat. Sama halnya ketika orang mendengar nama Kopi Gayo, mereka langsung tahu itu kopi khas dari Aceh. Harapan kami, ke mana pun kopi dari sini dijual, identitas Java Buana Ciremai akan selalu melekat dan dikenal masyarakat luas," tutur Wihujeng.
Di sektor hulu, KPw BI Cirebon konsisten mendampingi petani untuk meningkatkan produktivitas dan mutu hasil panen. Pendampingan ini melibatkan berbagai kegiatan teknis, seperti ekspedisi kopi hingga pelaksanaan cupping score.
Penilaian cupping score berguna untuk mengukur standar kualitas kopi secara objektif, sehingga program intervensi dan pembinaan yang diberikan dapat berjalan lebih terarah. Rata-rata nilai cupping score kopi Java Buana Ciremai mencapai 83,25.
Pada sektor hilir, KPw BI Cirebon gencar membuka akses pemasaran dan promosi. Potensi kopi lokal terus dikenalkan melalui pelibatan di berbagai ajang pameran, mulai dari tingkat regional hingga nasional, seperti Ciremai Coffee Culture dan Java Coffee Culture di tahun 2026.
Tak berhenti di pasar domestik, Bank Indonesia secara nasional juga melakukan kurasi ketat terhadap kopi-kopi berkualitas unggul untuk diboyong ke pameran kelas dunia, World of Coffee.
"Kopi dari Merta Coffee asal Kuningan, misalnya, sudah berhasil lolos kurasi dan melangkah ke ajang World of Coffee Bangkok pada tahun 2025," tambah Wihujeng.
Melalui sinergi pengembangan kelembagaan yang kokoh, penjaminan mutu yang terukur, serta promosi yang gencar, KPw BI Cirebon optimistis kopi Java Buana Ciremai dapat terus memperluas jangkauan pasar sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan bagi para petani lokal.
Cerita dari Kebun, Teknik Tanam Modern dan Standar Ketat
Geliat perubahan di tingkat tapak dirasakan langsung oleh Robi, pengelola Kopi Botanika sekaligus Ketua Kelompok Tani Pasir Tengah. Robi, yang juga aktif di MPIG Java Buana Ciremai, mengisahkan perjalanan perkebunannya yang terletak di ketinggian 750 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Sumber: