Tembus Pasar Dunia, Kopi Java Buana Ciremai Bangkit dari Trauma Tanam Paksa

Tembus Pasar Dunia, Kopi Java Buana Ciremai Bangkit dari Trauma Tanam Paksa

PETIK MERAH. Rasa dan aroma Kopi Java Buana Ciremai yang khas diperoleh dari standar ketat, salah satunya petik merah. Kepala KPw BI Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis, menunjukan butir kopi siap panen. FOTO : SUWANDI/RAKYAT CIREBON--

"Sebetulnya untuk berkebun di sini kita berawal dari tahun 2000-an, dan kita lanjutkan intensif di tahun 2022 sampai sekarang. Untuk perluasan lahan penanaman pertama, kita menanam 10.000 pohon di area sekitar 16 hektar. Jika digabungkan dengan mitra petani lain luasnya mencapai hampir 25 hektar," tutur Robi.

Ketinggian tersebut sangat ideal untuk budidaya varietas Arabika yang mendominasi hingga 70 persen, sedangkan sisanya merupakan Robusta dan Liberika. Untuk meraih kualitas terbaik, petani memegang teguh prinsip panen selektif (petik merah). Dari segi teknik budidaya, petani mengadopsi sistem tanam pagar (high-density planting) dari teknologi pertanian Brazil.

"Kalau sistem konvensional jarak tanamnya sekitar 2,5 meter. Nah, kalau sistem tanam pagar jaraknya sekitar 1 meter, sehingga dalam 1 hektar bisa menampung hingga 2.500 pohon. Hasil panennya jauh lebih banyak, bisa mencapai tiga kali lipat dibanding sistem konvensional," ungkap Robi.

Dalam standar produksinya, 1 hektar lahan mampu menghasilkan sekitar 10 ton petik merah segar per tahun. Setelah melalui pengolahan dan pengeringan, penyusutan berkisar 80 persen sehingga menghasilkan sekitar 2 ton green bean berkualitas tinggi dengan karakter rasa yang khas cenderung manis (sweetness), lembut (smooth), serta memiliki sentuhan cita rasa buah-buahan (fruity).

Dampak Ekonomi dan Peluang Ekspor Ratusan Miliar

Hasil pembenahan kualitas dan legalitas kini menumbuhkan asa baru berkat fasilitasi promosi, penentuan cupping score, hingga ajang business matching. Kopi Arabika dari lereng Ciremai berhasil menarik perhatian potential buyyer dari 28 negara, seperti Taiwan, Hong Kong, Malaysia, Belanda, hingga kawasan Jazirah Arab.

"Potential buyyer dari 28 negara itu tercatat mencapai angka penawaran sekitar Rp81 miliar," ungkap Taufik.

Meskipun kapasitas produksi saat ini masih berada di bawah 200 ton per panen setiap tahunan untuk skala komersial, pengiriman ekspor nyata terus berjalan. Di antaranya mencakup pengiriman ke Amerika Serikat sebanyak 2 ton dan Taiwan sebanyak 3 ton. 

Di tingkat petani, harga green bean Arabika petik merah kini berada di kisaran Rp170.000 per kg, Robusta Rp85.000–Rp90.000 per kg, dan kelas specialty bisa melampaui Rp300.000 per kg. Perputaran nilai ekonomi komersial kelompok tani ini diperkirakan mampu mencapai Rp2 miliar per tahun.

Untuk ekosistem sekitar, edukasi ke kedai kopi (coffee shop) sekitar Cigugur terus diperkuat agar penyerapan kopi lokal semakin optimal. Para petani kini tak lagi berhenti pada produksi biji kopi semata, juga integrasi menuju sektor agrowisata dan edukasi perkebunan tengah disiapkan.

"Dukungan KPw BI Cirebon sangat luar biasa, mulai dari hulu sampai hilir. Kesejahteraan petani meningkat, dan kita bisa membangkitkan kembali kejayaan Kopi Kuningan yang dulu sempat hilang," tegas Robi optimis. 

Robi bangga, tumbuh dan diolah dari lereng puncak bumi parahyangan, Java Buana Ciremai kini siap menyegarkan cangkir-cangkir penikmat kopi di seluruh dunia. (wan)

Sumber:

Berita Terkait