Pemerintah Didesak Serius Terapkan K3 Lalulintas
SAFETY. Praktisi K3, M Lazuardi PK menyoroti kecelakaan pickup maut yang menewaskan 12 orang dan 6 orang mengalami luka serius. FOTO: TARDIARTO AZZA--
INDRAMAYU - Kecelakaan di jalur Pantura Indramayu pada Minggu (12/7/2026) lalu menuai sorotan dari berbagai pihak. Bahkan praktisi Kesehatan dan keselamatan Kerja (K3) mendesak pemerintah agar serius menerapkan K3 dalam berlalu lintas.
Pemerintah dinilai perlu pula mengubah bentuk u-turn jalur pantura yang lebih aman dan melakukan penguatan Safety Culture Lalu Lintas.
"Jumlah korban yang mencapai belasan dalam kecelakaan tersebut tentunya harus menjadi titik balik pemerintah agar segera membenahi tatanan lalu lintas dengan berlandaskan K3," ujar Praktisi K3, Muhamad lazuardi Pradivta Komara, SKM MKKK, Rabu (15/7/2026).
Menurutnya, melihat titik terjadinya kecelakaan di u-turn hingga kondisi jalan yang lurus, sepi dengan pandangan terbentang tentunya memiliki banyak faktor akibat kecelakaan itu sendiri. Jika melihat dari sisi faktor manusia, tentu bisa juga dilihat ada dugaan kurang fokusnya sopir dalam berkendara dikarenakan kondisi jalan lurus panjang dengan pandangan kanan kiri persawahan.
"Perjalanan dari ujung perbatasan Sukra Indramayu hingga TKP itu kebanyakan jalan lurus panjang, ditambah lagi kanan kiri kebanyakan persawahan, tentunya itu membuat fokus kurang karena terlalu nyaman atau bahkan memacu diri manusia itu sendiri untuk mengebut atau menjadi tidak menginjak rem atau menarik rem tangan," kata pria yang juga dosen di Politeknik Negeri Indramayu (Polindra) ini.
Sedangkan dilihat dari sisi lainnya seperti sistem tentunya banyak hal mulai dari bentuk u-turn yang kurang baik, sehingga posisi pegendara yang ingin berputar balik tidak terlindungi secara sempurna untuk mengurangi kemungkinan pengendara ditabrak dari belakang.
"Sederhananya mungkin orang Indramayu pasti tahu u-turn yang berada di depan pom bensin jalan pantura arah Cirebon-Jakarta jika ingin menuju Rumah Sakit Mitra Plumbon, dimana mungkin itupun u-turn belum melindungi penuh, tapi setidaknya kelokan untuk mencegah pengendara dibelakang menabrak karena penginjakkan rem yang terlambat atau kendaraan di depan belok mendadak," papar pria berkacamata ini.
Sistem lainnya, dari sisi penggunaan mobil pickup menjadi angkutan penumpang menandakan kurangnya budaya keselamatan (safety culture). Padahal jelas sekali bahwa mobil pickup secara keperuntukkan untuk pengangkutan barang, bukan orang.
"Budaya keselamatan lalu lintas kita masih kurang, mungkin banyak di lihat mobil pickup digunakan mengangkut manusia mulai dari kegiatan pernikahan, wisata, bahkan kegiatan pertanian dan lainnya. Maka dari itu perlu keseriusan dari pemerintah baik dari pusat, provinsi hingga pemerintah daerah Kabupaten Indramayu yang berkaitan dengan perhubungan, pekerjaan umum hingga melibatkan kepolisian dalam menguatkan budaya keselamatan itu hingga sampai pedesaan," ujar pria yang juga mantan jurnalis ini.
Lazu menegaskan, jika beberapa hal yang disampaikan itu semua berjalan, meskipun masih banyak hal lainnya yang menjadikan akibat kecelakaan di jalur pantura tentunya membuat penguatan/barrier dalam menekan angka kecelakaan lalu lintas, tertutama di jalur pantura Kabupaten Indramayu. (tar)
Sumber: