Nyala Harapan Industri Genteng Majalengka Melalui Program Gentengisasi
--
*Oleh : Rizka Ratna Sari S.
SIAPA sangka genteng kini menjadi pembicaraan hangat di tengah masyarakat? Sejak disebut-sebut oleh Presiden Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional 2 Februari 2026 lalu di Bogor, program gentengisasi menjadi salah satu agenda strategis pemerintah yang hangat diperbincangkan. Program ini secara sederhana bertujuan meningkatkan kualitas hunian masyarakat sekaligus mendorong penggunaan material bangunan yang lebih aman, tahan lama, dan sesuai standar. Gentengisasi diperkirakan akan membuka peluang besar khususnya bagi industri bahan bangunan dan dampak yang dihasilkan mulai dari peningkatan serapan tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi daerah hingga peningkatan pendapatan masyarakat. Selama 3 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi di Kab. Majalengka rata-rata mencapai 6,46% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Barat yang mencapai 5,09% (yoy). Jika dilihat dari strukturnya, motor penggerak ekonomi Kab. Majalengka ditopang oleh sektor industri pengolahan serta sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Dengan adanya program gentengisasi diperkirakan akan memberikan multiplier effect tidak hanya bagi sektor perumahan, namun juga lapangan usaha pendukung yang menjadi input pada sektor tersebut. Terlebih dengan jumlah penduduk sebanyak 52,2 juta jiwa atau tertinggi di Pulau Jawa, hal ini berpotensi mendorong tetap kuatnya permintaan kebutuhan rumah serta berpotensi menjadikan Kab. Majalengka sebagai kawasan sumber pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Barat.
Pada tahun 2026 backlog perumahan nasional masih sangat tinggi, tercatat 13,4 juta keluarga belum memiliki rumah sendiri dan 29,9 juta keluarga tinggal di hunian yang tidak memenuhi standar kelayakan. Integrasi program gentengisasi saat ini disebut-sebut akan menjadi bagian dari program 3 juta rumah dibawah koordinasi Kementerian Perumahan dan Kawasan Pemukiman (PKP). Tahun ini target yang ditetapkan lebih besar dibandingkan target rata-rata lima tahun terakhir. Target Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) 2026 ditetapkan sebesar 350.000 unit, target Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) sebesar 400.000 unit dan beberapa target lain seperti pembangunan rusun dan penyediaan akses sanitasi.
Berdasarkan data pada tahun 2022, secara nasional BPS mencatat 57,93% rumah di Indonesia sudah menggunakan genteng sebagai atap rumah mereka sementara 31,48% menggunakan seng dan sisanya bervariasi menggunakan beton, asbes, bambu atau kayu sirap serta opsi material lain. Genteng sendiri di Indonesia telah lama berkembang sebagai alternatif atap rumah sejak masa Kerajaan Jawa dan terus berkembang di masa kolonial. Sebelumnya, rumah tradisional berkembang dengan menggunakan bahan alami seperti daun alang-alang, daun nipah, rumbia hingga bambu atau ijuk. Meski relatif murah, ringan dan mudah didapat namun penggunaan atap alami cenderung mudah lapuk dan rentan kebakaran sehingga masyarakat mulai bergeser menggunakan genteng berbahan dasar tanah liat. Hal ini didukung dengan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat yang ditandai dengan penggunaan genteng sebagai atap rumah, Pada masa order baru, genteng kemudian menjadi indikator kemakmuran karena harganya yang lebih mahal dan memerlukan struktur bangunan lebih kuat sebagai penopang sehingga hanya kalangan tertentu yang mampu menggunakannya.
Di Jawa Barat, Kabupaten Majalengka menjadi salah satu sentra produksi yang layak diperhitungkan. Industri genteng rakyat berawal dari tradisi kerajinan tanah liat masyarakat pedesaan yang didukung dengan ketersediaan tanah liat berkualitas tinggi di Majalengka. Letak geografis Majalengka yang berada di pertemuan kawasan vulkanik Gunung Ciremai dan dataran aluvial Pantura menghasilkan bahan baku tanah liat yang halus, kaya mineral dan memiliki plastisitas tinggi sehingga cocok digunakan untuk produksi genteng, bata maupun kerajinan terakota. Selain itu sifat tanah liat di Majalengka juga mudah dibentuk, tidak mudah retak saat dibakar, menghasilkan warna terakota yang khas, dan tahan terhadap cuaca. Hal inilah yang kemudian terus berkembang di masyarakat, genteng tanah liat bukan hanya sekedar komoditas namun juga identitas sejarah dan budaya bagi Majalengka.
Dalam proses implementasi program gentengisasi, Kabupaten Majalengka turut terdampak angin segar. Saat ini masih terdapat 150 pabrik yang aktif dengan kapasitas produksi mencapai 1 juta keping genteng tanah liat per hari. Arus permintaan yang begitu besar tentu juga diiringi dengan berbagai tantangan, terutama bagi industri yang pernah nyaris “mati suri”. Secara umum terdapat 5 faktor yang berpengaruh terhadap keberlangsungan industri genteng rakyat, diantara adalah sebagai berikut :
Kesulitan Regenerasi Tenaga Kerja Terampil
Industri genteng rakyat termasuk dalam industri padat karya yang memerlukan tenaga besar dalam prosesnya, namun terjadi pergeseran minat kerja sehingga industri ini tidak menjadi pilihan yang popular bagi generasi muda. Selain itu, upah tenaga kerja yang ditawarkan juga masih dibawah besaran UMK yang ditetapkan pemerintah sehingga pekerja lebih memilih industri lain seperti industri tekstil atau alas kaki yang juga berkembang pesat di Kab Majalengka dan sekitarnya. Keterampilan dalam menjalankan produksi genteng tanah liat pun juga tidak banyak diajarkan di sekolah vokasi sehingga keterampilan produksi diajarkan secara otodidak.
Kapasitas Produksi Belum Optimal
Struktur industri genteng rakyat di Majalengka masih berjalan secara tradisional dan mengandalkan faktor cuaca dimana saat musim angin atau musim hujan datang maka proses produksi dapat terhambat. Selain itu rangkaian produksi yang masih konvensional menyebabkan hasil produksi tidak sempurna, terlebih dari ratusan industri yang aktif, hanya 8 pabrik yang telah memenuhi Standard Nasional Indonesia (SNI), sisanya masih berjuang meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi. SNI melakukan uji terhadap daya serap air, kekuatan beban, presisi ukuran, dan ketahanan terhadap cuaca. Sertifikasi menjadi kunci penting bagi kebangkitan industri genteng rakyat agar bisa bersaing di pasar modern dan proyek nasional.
Keterbatasan Bahan Baku dan Ancaman Kenaikan Biaya Produksi
Bahan baku utama genteng Jatiwangi adalah tanah liat yang berasal dari sawah dan pasir, selain itu juga bahan pendukung kayu bakar. Tanah liat dari sawah saat ini terkendala proses alih fungsi lahan sawah menjadi industri atau pemukiman yang mengancam keterbatasan bahan baku. Ruang margin yang tipis di angka 100-150 rupiah per keping genteng memberikan kewaspadaan karena sangat rentan terhadap kenaikan biaya produksi, di sisi lain harga kayu bakar sebagai sumber energi pembakaran yang berasal dari Sumedang dan Kuningan juga mulai meningkat.
Hambatan Akses Pembiayaan
Masalah akses pembiayaan menjadi salah satu penyebab industri genteng rakyat sulit berkembang mengikuti arus modernisasi. Masalahnya bukan pada ketersediaan likuiditas di bank, namun karena struktur industry genteng rakyat yang sering kali dianggap kurang bankable. Pada umumnya dalam proses penyaluran kredit, bank akan menilai usaha calon debitur melalui prinsip 5C (character, capacity, capital, collateral, condition) yang diterjemahkan pada industri ini berupa track record pinjaman sebelumnya, stabilitas penjualan yang menjamin keberlangsungan usaha, struktur modal, kepemilikan agunan dan prospek kedepan. Akses pembiayaan perbankan saat ini juga cenderung diajukan secara perorangan sehingga perbankan perlu melakukan asesmen yang lebih dalam sebelum dapat mengalirkan kredit.
Sumber: