Nyala Harapan Industri Genteng Majalengka Melalui Program Gentengisasi
--
Landasan Program dan Kepastian Pasar
Meski telah digadang-gadang sebagai agenda strategis pemerintah, namun hingga kini landasan program gentengisasi masih belum clear baik dari sisi perencanaan program, integrasi antar program, hingga kontinuitas kedepan. Program ini memerlukan begitu banyak dukungan dari para pihak terutama pemerintah terkait sehingga dapat berjalan sesuai dengan harapan tidak hanya Presiden, namun juga pelaku usaha dan masyarakat. Industri genteng sangat bergantung pada sektor perumahan, namun pelaku usaha sektor perumahan dan konstruksi memiliki berbagai pilihan baik dari jenis atap yang digunakan, harga yang bersaing untuk menekan biaya produksi tanpa mengorbankan kualitas bangunan hingga vendor pemasok atap yang dikerjasamakan. Integrasi dengan proyek pemerintah diharapkan mampu menjadi anchor market bagi industri genteng rakyat, seperti program Kementerian PKP yang telah melakukan pembelian 14 truk genteng atau setara nominal 199,7 juta rupiah. Permintaan serupa diharapkan terus berlanjut terutama melalui fasilitasi pembangunan rumah subsidi dari Kementerian PKP dan bantuan rutilahu dari Pemprov Jabar dan Pemkab Majalengka, meski lagi-lagi beban anggaran tentu juga menjadi pertimbangan di tengah keterbatasan fiskal pemerintah daerah.
Menghadapi berbagai tantangan program gentengisasi tersebut, maka untuk hasil yang optimal perlu diperkuat dari berbagai aspek (pembiayaan, teknologi, standarisasi), perbaikan data dan skema implementasi program, serta intervensi masif untuk menciptakan ekosistem industri yang kuat. Bagi Majalengka, industri ini bukan hanya penghasil komoditas namun juga cermin perkembangan industri yang menjadi sumber ekonomi kerakyatan. Tentu jika program ini mampu menjadi kebangkitan bagi industri genteng rakyat di Majalengka, maka kita semua akan turut berbahagia. Pada akhirnya, revitalisasi industri genteng rakyat bukan hanya menghidupkan kembali pabrik tua melalui kepul cerobong asap, tetapi juga tentang menjaga keberlanjutan ekonomi kerakyatan, melestarikan identitas arsitektur tropis Indonesia, dan menumbuhkan harapan agar industri lokal dapat kembali menjadi tuan rumah di negeri sendiri. (*)
Sumber: