Partai Komunis Siap Gelar Kongres, Terungkap Ambisi Gila Xi Jinping

Partai Komunis Siap Gelar Kongres, Terungkap Ambisi Gila Xi Jinping

Presiden China, Xi Jinping.--

RAKYATCIREBON.ID, CHINA - Partai Komunis China (PKC) bakal menyelenggarakan kongres lima tahunan mereka yang ke-20 pada 16 Oktober mendatang.

Muncul spekulasi bahwa presiden China saat ini, Xi Jinping, berambisi melanggengkan genggamannya atas China.

Sebagaimana diberitakan The Guardian, Xi digadang bakal ditunjuk sebagai penguasa terkuat Negeri Tirai Bambu selama beberapa dekade. Posisi tersebut sebelumnya dipegang oleh pendiri PKC, Mao Zedong.

Selain itu, Xi dikabarkan dapat kembali memerintah China untuk periode ketiga.

"Kebanyakan orang tidak akan kaget jika Xi Jinping memerintah untuk periode ketiga. Saya pikir ini telah diatur sejak lama," kata pakar politik China dan profesor di Universitas Nasional Singapura, Alfred Wu Muluan.

Wu juga menuturkan kemungkinan Xi bakal meningkatkan persentase pendukungnya, khususnya dari Fujian dan Zhejiang, tempat di mana Xi sebelumnya menjabat di politbiro.

"Dia kemudian dapat mengandalkan dukungan mereka untuk periode keempat dengan masa jabatan lima tahun," tutur Wu.

Selain itu, Wu menilai Xi mungkin dilantik dengan gelar "pemimpin hebat" dalam kongres tersebut. Ini tampak kala sejumlah media propaganda PKC, termasuk media People's Daily, mulai menggunakan diksi "pemimpin rakyat" untuk merujuk pada Xi.

Cara Xi Jinping Jegal Musuh Politik

Sebagaimana diberitakan South China Morning Post, Xi merangkak ke bangku kekuasaan China menggunakan kampanye anti-korupsi.

Sejak ia berkuasa pada 2012, Xi dan pendukungnya kerap menggunakan kampanye tersebut untuk memberantas musuh politik dan memperkuat kendali di seluruh level komunitas.

Komisi Pusat untuk Inspeksi Disiplin (CCDI) menjadi alat Xi untuk menginvestigasi dan mendisiplinkan hampir lima juta pejabat tinggi dan pejabat akar rumput.

CCDI sendiri bertugas menindaklanjuti pejabat yang terlibat kasus penggelapan besar-besar, sogokan besar, dan penyalahgunaan kekuasaan demi keuntungan pribadi.

Walaupun demikian, hampir seluruh pejabat yang diselidiki CCDI awalnya diduga melanggar aturan dan protokol partai. Pelanggaran itu biasanya tampak dalam frasa "berbicara buruk atas kebijakan partai, mengabaikan cita-cita dan keyakinan, tidak jujur dan tidak setia dengan partai, pun menolak mengikuti investigasi."
(pwn/bac/rakcer)

Sumber: