Kisah Carlan, Tunanetra Calon Doktor Pertama IAIN Cirebon

Kisah Carlan, Tunanetra Calon Doktor Pertama IAIN Cirebon

Belajar Pakai Audio, Garap Disertasi Sejak Semester Satu

MATA Carlan tak bisa melihat sejak lahir. Namun semangatnya mampu menghantarkannya jadi ASN terbaik se Jawa Barat pada 2019. Kini, selangkah lagi dia bakal menjadi doktor pertama Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Mengenakan jas hitam match dengan celana dan sepatu pantopel hitam, Senin (25/1) siang, Carlan tampak begitu siap menghadapi ceceran 5 guru besar yang akan menguji disertasinya di ruang sidang. Momen seperti ini biasanya membuat peserta sidang gemetaran. Tapi tidak bagi Carlan.

Dia tampak santai. Sesekali melempar senyum kepada wartawan yang mewawancarainya sebelum sidang disertasi dimulai. “Lagi pula apa yang saya takuti. Sayapun nggak bisa melihat orang yang menguji disertasi saya,” ungkapnya kepada Rakyat Cirebon.

Ya, Carlan seorang tunanetra. Meski tak bisa melihat, semangatnya lah yang menuntunnya sampai ke ruang sidang sebagai calon doktor pertama di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dari Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI). Tepat dua tahun kuliah, dia mampu merampungkan naskah disertasinya. Bahkan lebih cepat dibanding mahasiswa program doktoral lainnya.

Saat menggarap disertasi, Carlan dibimbing oleh Prof Dr H Cecep Sumarna MAg sebagai Pembimbing Utama, Prof Dr H Dedi Djubaedi MAg sebagai Pembimbing 1 dan Dr Siti Fatimah MHum sebagai Pembimbing 2. Dia memulai bimbingan sejak semester 1 secara informal. Hasil bimbingan itu dia rekam dalam memori kemudian ditulis ulang oleh orang dekatnya.

Carlan mempresentasikan disertasinya di hadapan Prof Dr H Abdurrahman Mas\'ud MA selaku Penguji Eksternal melalui zoom serta Prof Dr H Adang Djumhur MAg dan Prof Dr H Jamali selaku Penguji Internal langsung di ruang sidang. Disaksikan Ketua Sidang, Prof Dr H Dedi Djubaedi MAg dan Sekretaris Sidang, H Didin Nurul Rosidin MA PhD.

Disertasi Carlan mengangkat tema keberagaman. Dengan judul Implementasi Model Pendidikan Nilai Multikultural dalam Membentuk Sikap Keberagaman Masyarakat (Studi Kasus di Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Tebalnya 289 halaman.

Carlan mengaku, tema keberagaman dia pilih lantaran prihatin dengan perilaku kekerasan atas nama agama dan tindak intoleransi yang masih terjadi. Cigugur, Kuningan menurutnya bisa jadi contoh praktik hidup yang mencerminkan harmoni dalam keberagaman.

“Kita sedang dihadapkan pada kekerasan atas nama agama. Intoleransi atas nama agama. Ternyata saya menemuka fakta lain di Cigugur, keragaman agama itu tidak nampak adanya kekerasan, intoleransi. Inilah yang ingin saya pesankan secara moral kepada Indonesia,” ujar dia.

Menurutnya, Cigugur merupakan aset  bernilai Kabupaten Kuningan.  Lantaran terdapat berbagai kekayaan agama dan budaya Sunda yang masih lestari sampai kini. Sikap toleransi masyarakat Cigugur juga tercermin dalam perilaku keseharian. Penghormatan terhadap leluhur dan orang lain yang beda keyakinan terawat dengan baik.

“Bahwa sebetulnya kalau dibangun kesadaran bergama lakum dinukum walyadiin, kan gitu. Ternyata di Cigugur bisa. Negara kita juga Bhineka Tunggal Ika,” kata Carlan yang pada saat sidang mengenakan kacamata hitam.

Sidang disertasi Carlan merupakan tahap awal yang digelar secara tertutup. Di sidang ini, Carlan diberi kritik dan penguatan untuk mendukung argumentasi dan data lapangan dalam disertasinya. Dia sudah merekam apa saja masukan para penguji untuk perbaikan disertasinya.

“Terkait dengan landasan, metodologi sampai ke persoalan akhir. Beberapa catatan yang saya dapatkan adalah lebih ke saran dan penajaman soal model yang ditemukan dalam kehidupan keberagaman di masyarakat Cigugur,” ujar dia.

Sumber: