IAIN Cirebon Jadi Pelopor Sertifikasi Pembimbing Haji Virtual Pertama

IAIN Cirebon Jadi Pelopor Sertifikasi Pembimbing Haji Virtual Pertama

RAKYATCIREBON.ID -  IAIN Syekh Nurjati Cirebon melalui Center for Hajj and Umrah Studies mengembangkan Sertifikasi Haji Virtual berbasis IT. Lantaran itu, IAIN Cirebon dinobatkan sebagai pelopor sertifikasi pembimbing manasik haji virtual pertama.

Model pelatihan yang dikembangkan yakni berbasis online, offline dan paperless untuk mendukung inovasi penyelenggaraan sertifikasi pembimbing manasik haji di era pandemi Covid-19 dan pemanfaatan teknologi yang mutakhir.

 Kordinator Program, H Mohammad Yahya MHum mengatakan website yang dimiliki terintegrasi dengan sistem yang mumpuni. Meliputi proses perekaman kehadiran, sajian materi, proses penugasan, survei, penilaian dan monitoring yang semuanya dilakukan melalui teknologi informasi.

“Peserta tidak lagi repot untuk mencari materi, mengumpulkan tugas dan melihat evaluasi dirinya, karena semua dapat diakses melalui satu aplikasi digital,” terang Yahya

Kabid PHU Kemenag Jawa Barat, Drs H Ajam Mustajam MSi menuturkan pelaksanaan sertifikasi haji virtual dengan teknologi digital adalah yang pertama di Indonesia. Jawa Barat adalah pencetusnya. Dukungan konsep dan teknis kegiatan yang baik menjadi salah satu kunci keberhasilan program ini.

Selain itu menurutnya, model pelatihan berbasis teknologi akan mampu meningkatkan pemahaman peserta terhadap perkembangan zaman yang dinamis.

“Permasalahan pembimbing haji yang tidak mampu menjalankan aplikasi-aplikasi haji Kemenag, harapanya tidak ada lagi. Pembimbing haji mampu melakukan akselerasi literasi teknologi dan setiap proses yang terkait dengan ibadah haji,” harap Ajam.

Antusiasme peserta terlihat melalui partisipasinya dalam penggunaan teknologi. Peserta yang didominasi oleh para Ulama, Kyai dan Pembimbing yang berpengalaman tersebut melalui proses pelatihan berbasis online dengan sangat baik.

H Abdul Aziz Siswanto, salah satu peserta merasa bersyukur dengan model pelatihan seperti ini. Menurutnya, segalanya lebih mudah, dengan menyimak materi melalui konferensi virtual, dalam pembelajaran dan penugasan tidak memerlukan banyak kertas.

“Selanjutnya, kami yang belum paham dengan gawai akhirnya mampu mengoperasikan aplikasi-aplikasi online melalui bimbingan dari fasilitator dan panitia. Harapanya, ini tetap dipertahankan dan dikembangkan,” pungkasnya. (wan)

Sumber: