Temuan Tujuh Sumur Sedot Perhatian Warga

Temuan Tujuh Sumur Sedot Perhatian Warga

SUMBER – Temuan tujuh sumur di Blok Cantilan Kelurahan Kaliwadas Kecamatan Sumber beberapa waktu lalu sedot perhatian masyarakat sekitar bahkan luar daerah.
\"tujuh
Tujuh sumur blok Cantilan Kaliwadas. Foto: Ari/Rakyat Cirebon

Lokasi penemuan sumur di dalam kolam tua tersebut berada di pinggir sawah dan di lindungi pohon-pohon yang menjulang tinggi dan rindang.

 Anak-anak kecil dari desa sekitar selalu ramai di siang hari, diantara mereka ada yang mandi di kolam yang konon di keramatkan tersebut.

Ada juga yang hanya sekedar duduk sambil bercengkerama dengan teman sebayanya.

Semakin sore, pengunjung nampak banyak lagi yang berdatangan. Pengunjung yang dekat dengan lokasi sumur lebih memilih jalan kaki beramai-ramai, tidak sedikit pula warga dari luar desa tersebut datang.

Kedatangan mereka ke balong tersebut untuk mandi dan pada saat pulang tak tertinggal membawa airnya.

Diceritakan salah seorang sesepuh blok setempat, Syafruddin (52), pada 24 November 2016 lalu, balong yang sebelumnya digunakan warga untuk mandi maupun mencuci pakaian itu sudah lama dikeramatkan masyarakat sekitar.

Namun atas perintah dari pihak Keraton Kanoman untuk dikuras karena terdapat sumur, akhirnya ditemukanlah sumur yang pertama yang dinamakan Sumur Tirta Kencana Banyu Biru, posisinya paling besar berada di tengah-tengah balong tersebut.

Di hari keduanya, masyarakatpun kembali menguras balong itu hingga ditemukan dua sumur lain dan di hari selanjutnya juga telah ditemukan kembali hingga jumlahnya menjadi tujuh sumur.

Yakni Sumur Tirta Kencana Banyu Biru, Kejayan, Keputren, Anom, Balong Sepuh, Kemulyan, dan Jalatunda.

“Jadi ketujuh sumur ini ditemukan awalnya atas perintah Elang Aji yang sudah melakukan ritual sebelumnya, dan kata dia di sini ada sumur yang sudah ratusan tahun, bahkan sebelum Islam ada di Cirebon. ternyata setelah kami kuras benar adanya,” ujar Syafruddin kepada Rakcer, Senin (19/12).

Padahal kata dia, sebelumnya, meskipun selama lima tahun sekali dikuras, belum pernah ditemukan sumur-sumur keramat itu.

Bahkan, lanjutnya, ketujuh sumur itu ada sejak sebelum Islam masuk ke tanah Cirebon.

“Katanya sih dulu di sini padukahan yang dibangun oleh Ki Danuarsih. Jadi katanya sih disini yang pertama kali padukuhan,” ujar Syafruddin.

Ia juga menceritakan, sebelum ditemukan sumur-sumur itu, masyarakat sekitar telah mengkramatkannya. Bahkan, tak hanya masyarakat sekitar saja yang mandi dan mengambil air di balong itu.

Namun, dari masyarakat luar Kabupaten Cirebon pun banyak yang berkunjung. Dan ketika kemarau panjang, balong itu pun tak pernah surut airnya.

Lokasi sumur-sumur yang berada di balong dan tanahnya milik bersama masyarakat setempat itu, aku Syafruddin akan terus dipertahankan.

Bahkan sebelum ditemukannya sumur itu, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Cirebon sempat memasang plang bahwa tanag tersebut adalah milik Pemda.

“Namun kami langsung sepakat dan kompak untuk mencabut plang itu. Karena kami tidak ingin kalau tanah keramat yang milik bersama masyarakat sini nantinya dibangun apa atau apa oleh Pemda. Karena tempat ini warisan leluhur kita, jadi harus tetap dipertahankan,” ujar Syafruddin dengan penuh semangat.

Elang Aji Nurasa, selaku Pendamping Sultan Kanoman Sultan Emirudin XII mengakui, sebelumnya di tempat itu memang tidak ada sumur, namun ada dongeng-dongeng saja yang beredar di masyarakat sekitar.

Namun, dirinya mencoba untuk membuktikan bahwa tempat itu memang keramat melalui mediasi secara gaib.

Setelah mediasi selesaipun, dilakukan pengurasan balong dan akhirnya muncul sumur yang menurutnya, warga sekitar pun kaget.

Sebab kata dia, memang sebelumnya ketika dikuras tidak pernah ditemukan sumur.

“Itu situs bukan sembarangan, karena hanya ada satu-satunya di Cirebon dan ada sebelum Cirebon berdiri, ya antara abad ke-11 situs itu didirikan oleh sesepuh-sesepuh zaman dulu. Dan bentuk sumurnya juga berbeda dengan sumur-sumur lainnya,” ujar Elang Aji.

Meski demikian, ia pun menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat sekitar maupun Pemda Kabupaten Cirebon, terkait penemuan sumur-sumur keramat tersebut.

Namun, kata dia, keberadaan situs yang langka dan hanya ada di Cirebon itu, seharusnya dijaga dan dilestarikan agar tidak hilang begitu saja.

“Situs itu tentunya sangat bersejarah sekali. Jadi kalau itu dihilangkan oleh Pemda untuk dibangun perumahan ya maka Cirebon juga hilang,” kata Elang Aji mengakhiri. (ari)

Sumber: