Santunan Yatim Piatu dan Dhuafa di Malam Asyura

Santunan Yatim Piatu dan Dhuafa di Malam Asyura

Warga Blok Kawung, Desa Megu Gede, Kecamatan Weru, Kabupaten menggelar Santunan bagi Yatim/Piatu dan dhuafa. FOTO : ZEZEN ZAENUDIN ALI/RAKYAT CIREBON--

CIREBON, RAKYATCIREBON.DISWAY.ID - Solidaritas dan kepedulian masyarakat Blok Kawung, Desa Megu Gede, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, masih tinggi. Padahal, masyarakat kebanyakan kondisi perekonomiannya sedang tidak menentu.

Sabtu malam (5/7), Forum Silaturahmi Masjid Musholla (Forsmasa) Nurul Hidayah menggelar kegiatan Kawung Bershalawat dan Santunan Anak Yatim/Piatu serta Dhuafa. Agenda tersebut dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1447 H dan memperingati hari Asyura, 10 Muharram.

Tak kurang dari 45 anak yatim/piatu dan 30 dhuafa, termasuk para janda dan lansia yang kesulitan secara ekonomi, menerima santunan berupa uang tunai dan bingkisan.

Namun, yang paling menyentuh bukan pada nominal bantuan. Melainkan cara masyarakat menjadikan kegiatan ini sebagai ajang membersihkan hati, menebar rahmat, dan menghidupkan ajaran Rasulullah SAW tentang peduli terhadap sesama.

Karena, keberkahan bisa dihadirkan lewat tangan-tangan yang terulur ikhlas. Bukan karena mampu, tapi karena mau.

Juru Bicara Forsmasa Nurul Hidayah, Ustadz Syah Maulana, menegaskan kegiatan ini bukan sekedar seremonial tahunan. Mbah Maulana--sapaan untuknya menegaskan ini merupakan cara masyarakat setempat menjaga ruh ukhuwah dan semangat berbagi.

"Bahwa tangis anak yatim tak boleh didiamkan, dan tangan kita harus hadir saat mereka membutuhkan," katanya.

Salah satu prosesi yang mencerminkan kedalaman spiritualitas masyarakat malam itu adalah ketika anak-anak yatim berjalan mengelilingi jamaah. Diiringi lantunan shalawat yang menggema dari corong pengeras suara masjid.

Para jamaah tak sekadar menyisihkan uang ke dalam kotak amal, tetapi juga mengusap kepala anak-anak, menghidupkan kembali sunnah Rasulullah. Tak sedikit, ada yang sampai meneteskan air mata.

"Santunan utama sudah kami siapkan. Namun momen itu adalah untuk jamaah, agar mereka bisa menambah sedekah secara langsung dan turut mendapat keberkahan dari Allah serta syafaat dari Rasulullah SAW," lanjut Mbah Maulana.

Bulan Muharram, terutama hari Asyura, bukan hanya dikenal sebagai momentum sejarah. Dalam Islam, ini adalah waktu mustajab untuk memperbanyak amal kebaikan. Maka, masyarakat Blok Kawung menjadikannya sebagai momen perlawanan simbolik terhadap ketimpangan sosial. Caranya dengan berbagi.

Aditama, salah satu tokoh masyarakat dari Kabupaten Cirebon yang turut hadir, menyampaikan rasa salutnya terhadap konsistensi kegiatan ini. Baginya, ini bukan sekadar bentuk kepedulian lokal, tapi manifestasi ajaran agama yang harusnya mendapat perhatian lebih luas.

"Pemerintah desa dan kabupaten seharusnya melihat dan mendukung kegiatan seperti ini. Ini bentuk nyata pengamalan nilai-nilai Islam dan kepedulian sosial, bukan hanya acara seremonial," tegasnya.

Ketua Panitia, H Tono, menyebut bahwa kegiatan ini telah berlangsung sejak lama. Dua tahun terakhir dilaksanakan dalam skala yang lebih besar. Menurutnya, acara ini lahir dari kekuatan gotong royong masyarakat, bukan karena dukungan besar dari luar.

"Kami hanya ingin terus melanjutkan. Ini bukan tentang siapa yang memberi, tapi bagaimana kita tetap kompak menghidupkan nilai kemanusiaan dan Islam itu sendiri," katanya.

Kegiatan ini juga terbuka bagi siapa pun yang ingin berpartisipasi. Para penerima santunan pun berasal dari wilayah Blok Kawung, Megu Gede, hingga beberapa wilayah tetangga seperti Kawung Kulon. (zen)

Sumber: