KH Moh Usamah Manshur, Kiai Organisatoris dan Penyayang Istri Meninggal Dunia Diusia Senja

KH Moh Usamah Manshur, Kiai Organisatoris dan Penyayang Istri Meninggal Dunia Diusia Senja

WAFAT. Pimpinan Pesantren An-Nashuha Kalimukti, KH Moh Usamah Manshur meninggal dunia, Jumat (5/9). FOTO : DOC/RAKYAT CIREBON--

CIREBON, RAKYATCIREBON.DISWAY.ID – Kabar duka menyelimuti dunia pesantren dan masyarakat Kabupaten Cirebon. Pengasuh Pondok Pesantren An-Nashuha, Kalimukti, KH Moh Usamah Manshur, wafat Jumat malam, 5 September 2025.

KH Moh Usamah Manshur meninggal dunia ketika sedang menjalani perawatan di RS Permata Cirebon pukul 19.57 WIB. KH Usamah dikenal luas sebagai kiai organisatoris serta sosok suami yang penyayang.

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tak hanya bagi keluarga dan santri, namun juga masyarakat luas, khususnya di wilayah Cirebon Timur.

KH Moh Usamah Manshur bukan hanya tokoh pesantren. Ia juga dikenal sebagai tokoh penting dalam gerakan Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Cirebon. Sosoknya aktif dalam berbagai organisasi keislaman dan pendidikan, serta tercatat pernah menjabat sebagai Rais Syuriah PCNU Kabupaten Cirebon periode 2012–2017.

Mamang M Haerudin, Pengasuh Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Al-Insaaniyyah, mengenang almarhum sebagai pribadi yang gigih dalam berorganisasi dan penuh cinta terhadap keluarganya.

“Saya menyebut Kiai Usamah sebagai kiai organisatoris yang penyayang istri. Meski saya tidak begitu dekat, tapi saya mengenalnya sejak aktif di NU. Beliau penuh semangat dalam berorganisasi, dan penuh cinta kepada keluarganya,” ujar Mamang.

Salah satu sisi inspiratif dari KH Moh Usamah Manshur adalah keteladanannya dalam kehidupan keluarga. Ia dikenal tidak segan mengekspresikan cintanya kepada sang istri, termasuk membelikan berbagai barang, bahkan mobil mewah, sebagai bentuk kasih sayang.

“Beliau tidak pernah ragu menyayangi istri, bahkan tak takut akan harga mahal. Ini pelajaran bahwa kasih sayang kepada pasangan juga bagian dari keteladanan,” tutur Mamang.

Kepergian KH Moh Usamah Manshur terjadi di tengah situasi sosial-politik yang memanas. Beberapa hari terakhir, Cirebon diguncang aksi demonstrasi yang berujung pada kerusuhan dan perusakan gedung DPRD Kabupaten Cirebon.

Kepergian sosok yang dikenal kritis terhadap kekuasaan ini menjadi kehilangan besar di saat masyarakat membutuhkan suara-suara moral yang berani.

“Kita kehilangan beliau di saat kita butuh sosok kiai, pemuda, dan masyarakat yang kritis serta jauh dari sifat penjilat terhadap kekuasaan. Semoga beliau husnul khatimah. Allahummaghfirlahu,” ujar Mamang.

Di mata para sahabat dan kolega, almarhum juga dikenal sebagai penggerak aspirasi masyarakat Cirebon Timur. KH Usamah Manshur menjadi salah satu pelopor gagasan pemekaran Kabupaten Cirebon Timur sebagai bentuk perjuangan atas ketimpangan pembangunan.

“Pemekaran yang kita suarakan hari ini tidak bisa dipisahkan dari doa, nasihat, dan dukungan beliau sejak awal. Beliau selalu berkata, perjuangan ini bukan untuk segelintir orang, tapi untuk anak cucu kita kelak,” ungkap Tokoh Muda Cirebon Timur, R Hamzaiya SHum.

KH Usamah Manshur akan dikenang bukan hanya sebagai ulama dan pengasuh pesantren, tetapi juga sebagai tokoh moral yang menyuarakan keadilan dan pemerataan. Warisan perjuangannya terutama dalam memperjuangkan Cirebon Timur agar mandiri, menjadi catatan penting dalam sejarah.

“Saya mengenal beliau bukan sekadar ulama, tapi tokoh moral yang selalu menyalakan semangat perjuangan masyarakat agar tidak terus tertinggal,” kata Hamzaiya.

“Mari kita jaga warisan perjuangan beliau, kita teruskan semangat dan doanya, agar kelak Cirebon Timur benar-benar bisa mandiri,” tuturnya.

Alumni PP An-Nashuha Kalimukti, Alisa Riska Maulidiya menjelaskan jenazah KH Usamah Manshur tiba dilingkungan pesantren pukul 00.46 WIB, Sabtu 6 September 2025. Disambut oleh ribuan santri dan berbagai elemen masyarakat.

"Rencananya, jenazah KH Usamah Manshur akan dishalatkan pukul 09.30 di Masjid Al Barokah PP An Nashuha Kalimukti," tukasnya. (zen)

Sumber: