Merawat Sumber Pangan di Ladang Produsen Migas

Merawat Sumber Pangan di Ladang Produsen Migas

PANGAN. Lahan sawah yang akan dijadikan lokasi proyek Petrochemical Complex Jawa Barat di dekat Kilang Balongan. FOTO: TARDIARTO AZZA--

INDRAMAYU - Menanam hingga memanen padi menjadi rutinitas sebagian besar petani di Kabupaten INDRAMAYU yang tidak hanya untuk memenuhi target penghasilan sendiri, tapi juga menopang kebutuhan pangan dalam lingkup lokal maupun skala nasional. Hasil produksinya pun selalu ditargetkan melimpah, meski sering dihadapkan dengan banyak persoalan hingga ancaman gagal panen.

Sunarto, warga Desa Tegal Sembadra, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, merupakan seorang petani yang turut andil dalam produksi bahan pangan pokok andalan negeri ini.

Laki-laki berusia 46 tahun ini dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, hingga Oktober 2025, menggarap sawah seluas 400 bata atau sekira 0,6 hektare. Lahan sawah garapannya berada di areal persawahan milik PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), di dekat Kilang Balongan.

Produksi padi di lahan garapannya itu tidak cukup hanya dengan pemenuhan bibit unggul dan pilihan varietas. Selama masa tanam, hari-harinya disibukkan mengurus tanaman padi. Tak hanya siang, malam pun kerap harus berada di sawah untuk mencegah serangan hama tikus maupun menjaga pasokan air dari saluran irigasi.

Sebagai petani, Sunarto tak mudah menyerah dengan berbagai tantangan dan kendala agar hasil panennya maksimal. Termasuk untuk bisa mendapatkan pupuk dengan harga subsidi. "Serangan tikus masih menjadi masalah, selain hama lainnya. Makanya kalau malam sering di sawah jagain tanaman padi," tuturnya.

Dalam setahun, sawah garapannya bisa tanam dua kali. Namun pada musim tanam kedua sangat bergantung pada pasokan air. Di tiap musim tanam itu, ia harus melakukan dua kali penyemprotan obat-obatan, bahkan hingga beberapa kali agar produksi padinya optimal.

"Semprot obat bisa dua kali, kalau penyakit menyerang terus harus seminggu sekali. Ya kadang pusing, harga obat-obatan mahal," keluhnya.

Saat panen tiba, selama ia menggarap kerugian yang dialami selain produksi menurun akibat serangan hama dan kurangnya pasokan air, yaitu harga jual anjlok. "Pernah pas panen harganya murah, ya terpaksa dijual sebagian buat makan," kata dia.

Jika produksinya maksimal, di lahan garapan Sunarto dapat menghasilkan 3,5 ton gabah. Harga jual pada pertengahan Oktober 2025 ini, apabila dijual di sawah ketika baru dipanen di kisaran Rp7.200 sampai Rp7.500 per kilogram. 

Sebenarnya, ia bisa mendapatkan harga Rp8.200 sampai Rp8.500 per kilogram jika hasil panennya termasuk Gabah Kering Giling (GKG). Namun, ia harus menjemur terlebih dahulu dalam beberapa hari dan dipastikan akan mengeluarkan biaya ekstra, sehingga memilih menjualnya dalam kondisi kering panen.

Sedangkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk Gabah Kering Panen (GKP), sesuai ketentuan hanya Rp6.500 per kilogram.

Sunarto tak memungkiri, dari hasil menggarap sawah di dekat kilang tersebut dapat menghidupi keluarganya. Juga bisa membiayai sekolah kedua anaknya. Pendapatan kotor jika harga jual gabah Rp7.500 per kilogram, maka ia mendapatkan hasil Rp26.250.000 dalam satu musim.

Dari jumlah penghasilan itu, sebagian akan digunakan kembali untuk modal tanam berikutnya. Adapun biaya produksi dari tanam hingga panen yang dibutuhkan sebesar Rp7 jutaan. "Kalau pas panen harga jualnya anjlok ya pusing. Mana buat makan, mana buat modal tanam lagi, belum lagi bayar utang," tuturnya.

Sawah garapan Sunarto itu hanya sebagian kecil dari seluruh luasan sawah di depan Kilang Balongan. Totalnya ada lebih dari 300 hektare dan tersebar di beberapa desa. Rencananya, lahan itu akan digunakan untuk proyek Petrochemical Complex Jawa Barat.

Sumber: