Majelis Kebon Sufi Ajak Mahasiswa Open-Minded dan Kembangkan Keterampilan Komunikasi

Majelis Kebon Sufi Ajak Mahasiswa Open-Minded dan Kembangkan Keterampilan Komunikasi

POSE. Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab UIN Siber Cirebon tampak foto bersama di Markas Majelis Kebon Sufi, yang beralamat di Kelurahan Perbutulan, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon. FOTO: IG KEBON SUFI--

CIREBON - Majelis Kebon Sufi menggelar acara kajian Ramadan berjudul "Malam Langit Terbuka Menjemput Lailatul Qadar (Membasuh Jiwa, Menjemput Cahaya, Cerdas Membaca Arah Zaman dan Menyambut Tatanan Dunia Baru), pada hari Jum'at, 13 Maret 2026.

Adapun pematerinya ialah cendekiawan Habib Dr. Syech Muhammad Alcaff, M.A., dan budayawan muda Farihin Niskala, S.Hum.

Kebon Sufi melaksanakan kegiatan itu bekerjasama dengan Bimbel Lingkar Berpikir Cirebon.

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab UIN Siber Cirebon menghadiri acara tersebut. Mereka sangat semangat, antusias, serta terkesan. Kedatangan mereka untuk membangun komunikasi dan relasi dengan siapapun atau lembaga mana saja.

"Kami senang mengunjungi Kebon Sufi. Kami merasa memperoleh wawasan baru di luar kelas atau matakuliah. Kami bisa belajar mengenai bahasa, karakter, agama, kenegaraan, dan sebagainya. Ternyata ilmu pengetahuan yang lebih luas bisa kami dapatkan dari luar kampus," ungkap Amri Syauqi, Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab UIN Siber Cirebon.

Habib menegaskan, mahasiswa harus open-mainded dan mengembangkan keterampilan komunikasi. Open-mainded perlu dalam diskusi, pembelajaran, lingkungan kerja, serta kehidupan sehari-sehari. 

"Jika pandai komunikasi, maka kita mudah bergaul dan unggul di tempat kerja," tutur pembina Kebon Sufi ini.

Menurut Habib, perguruan tinggi Islam mesti membuka cakrawala berfikir umat agar semakin lapang dan progresif. "Kita juga harus produktif dan inovatif. Kita bisa melihat contoh aktivitas kaum Muslim di negara-negara lain. Jangan sampai terus terjebak pada perbedaan mazhab yang membuat kemunduran," ujar Direktur Pusat Studi Filsafat dan Pemikiran Islam ISIF itu.

Farihin menerangkan, peranan gemar membaca amat vital guna membentuk pola pikir mahasiswa supaya semakin terbuka, kritis, serta inklusif. 

"Misalnya saya pernah membaca buku karya Soe Hok Gie dan Tan Malaka. Jadi saya mengerti tentang betapa pentingnya cinta, kerja keras, pengabdian, ketulusan, kebenaran, serta keadilan," ucap pustakawan dan pengampuh program Jirah (Ngaji Sejarah) ini. (wan)

Sumber: