Perayaan Nyepi 2026 di Cirebon Berbeda, Acara Melasti Digelar Sederhana karena Bertepatan Ramadan

Perayaan Nyepi 2026 di Cirebon Berbeda, Acara Melasti Digelar Sederhana karena Bertepatan Ramadan

Sekretaris PHDI Wilayah III Cirebon, Ir I Dewa Made Budiana memberikan Penghormatan sebelum memasuki area peribadatan di Pura Agung Jati Pramana.-ISTIMEWA/RAKYATCIREBON.DISWAY.ID-

CIREBON, RAKYATCIREBON.DISWAY.ID — Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka di Kota CIREBON pada 2026 berlangsung berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini lantaran momen Nyepi kali ini bertepatan dengan bulan suci Ramadan serta mendekati Hari Raya Idul Fitri.

Sejumlah rangkaian kegiatan yang biasanya dilakukan secara terbuka dan melibatkan banyak umat, tahun ini disesuaikan agar tetap menjaga toleransi dan menghormati umat Muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa.

Sekretaris PHDI Wilayah III CIREBON, Ir I Dewa Made Budiana menjelaskan, secara umum rangkaian Hari Raya Nyepi tetap sama, yakni diawali dengan prosesi Melasti, dilanjutkan dengan Tawur Kesanga atau pengerupukan, hingga pelaksanaan Catur Brata Penyepian.

“Secara standar, rangkaian Nyepi tetap didahului dengan Melasti. Tujuannya untuk penyucian, baik peralatan persembahyangan di pura maupun penyucian diri umat Hindu menjelang hari suci Nyepi, yang merupakan pergantian Tahun Saka,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, biasanya prosesi Melasti dilakukan di sumber-sumber air seperti laut, mata air, maupun pertemuan sungai yang dianggap suci.

Namun, khusus tahun ini pelaksanaan Melasti mengalami penyesuaian.

“Karena tahun ini bertepatan dengan bulan puasa, kami tidak melakukan Melasti ke laut. Melasti hanya dilakukan di lingkungan pura, memanfaatkan sumber air yang ada di dalam area pura,” ungkapnya.

Menurutnya, keputusan tersebut diambil agar pelaksanaan ibadah tetap berjalan khidmat tanpa mengganggu aktivitas masyarakat sekitar.

Setelah Melasti, rangkaian Nyepi dilanjutkan dengan Tawur Kesanga yang memiliki makna filosofis sebagai upaya penyucian dan penyeimbangan alam semesta.

“Tawur Kesanga itu tujuannya untuk penyucian buana agung atau alam semesta, agar tercipta keseimbangan menjelang perayaan hari suci,” tambahnya.

Sementara pada puncak Hari Raya Nyepi, kata Dewa, umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian, yakni empat pantangan utama.

“Ada amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak menikmati hiburan). Intinya adalah introspeksi diri atau mulat sarira,” katanya.

Ia menyebut, pelaksanaan Nyepi lebih banyak dilakukan di rumah masing-masing umat, bukan terpusat di pura.

“Saat Nyepi, umat Hindu melaksanakan ibadah di rumah masing-masing dengan menjalankan Catur Brata Penyepian sebagai bentuk refleksi diri,” ucapnya.

Selain rangkaian ibadah, Dewa menyampaikan, umat Hindu di CIREBON juga tetap menggelar kegiatan sosial sebagai bagian dari perayaan Nyepi yang bertepatan dengan Ramadan.

“Kami juga melakukan kegiatan sosial seperti pembagian takjil dan paket sembako, serta donor darah bekerja sama dengan PMI Kota CIREBON,” ujarnya.

Budiana menuturkan, kegiatan donor darah justru menjadi momentum penting karena kebutuhan darah biasanya meningkat saat Ramadan.

“Karena banyak saudara kita yang berpuasa tidak melakukan donor darah, maka ini menjadi kesempatan bagi umat Hindu untuk membantu memenuhi kebutuhan stok darah,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Kota CIREBON, Agus Sukmanjaya mengatakan, pemerintah telah berkoordinasi dengan pengurus pura terkait pelaksanaan Nyepi tahun ini.

“Kami sudah berkomunikasi dengan pengurus pura, dan memang pelaksanaan Nyepi tahun ini lebih banyak dilakukan di rumah masing-masing umat, sehingga tidak ada kegiatan besar di pura,” katanya.

Ia juga menyebut tidak ada laporan terkait pelaksanaan Melasti di luar lingkungan pura seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Untuk Melasti memang tidak dilaksanakan ke luar seperti ke laut. Itu menjadi kebijakan internal dari pengurus pura,” pungkasnya. (its)

Sumber:

Berita Terkait