Dari Myeongdong ke Genggaman, QRIS Membuat Dunia Terasa Lebih Dekat

Dari Myeongdong ke Genggaman, QRIS Membuat Dunia Terasa Lebih Dekat

--

* Oleh : Agus Umar Akmad (Asisten Penyelia Perkasan – Unit Implementasi Pengelolaan Uang Rupiah KPw Bank Indonesia Cirebon)

BAYANGKAN berjalan di kawasan Myeongdong ketika malam mulai datang. Lampu toko menyala terang, aroma tteokbokki dan odeng bercampur di udara, sementara antrean kecil terlihat di depan kedai kaki lima. Seorang wisatawan asal Indonesia menghentikan langkahnya, memesan makanan, lalu mengeluarkan ponsel dari saku. Tidak ada uang won yang ditukar, tidak ada pertanyaan soal kurs. Ia cukup memindai sebuah kode QR. Dalam hitungan detik, transaksi selesai. Hal yang sederhana, cepat, dan terasa akrab, seolah masih berada di tanah air.

Pengalaman kecil semacam itu menyimpan makna yang lebih besar. Ia bukan sekadar cerita tentang kemudahan berbelanja di luar negeri, melainkan potret bagaimana kebijakan publik hadir secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah arus globalisasi, perubahan tidak selalu datang lewat perjanjian ekonomi berskala besar atau forum internasional yang megah. Justru, ia sering terasa paling nyata dalam transaksi bernilai kecil saat teknologi memendekkan jarak dan menghapus kerumitan.

Konteks inilah yang melatarbelakangi beroperasinya QRIS lintas negara Indonesia dengan Korea Selatan sejak 1 April 2026. Melalui kerja sama Bank Indonesia dan Bank of Korea, masyarakat Indonesia kini dapat bertransaksi langsung di Korea Selatan menggunakan QRIS melalui aplikasi pembayaran domestik. Begitu pula sebaliknya, wisatawan asal Korea dapat membayar berbagai kebutuhan di Indonesia tanpa harus menukar uang tunai. Transaksi dilakukan langsung dalam mata uang masing-masing negara, praktis dan efisien.

Jika dilihat dari datanya, adopsi QRIS tumbuh di atas fondasi yang relatif kokoh. Hingga awal 2026, Bank Indonesia mencatat jumlah pengguna QRIS telah mencapai puluhan juta orang. Pada saat yang sama, pemanfaatan QRIS lintas negara telah digunakan jutaan kali, dengan porsi terbesar berasal dari transaksi wisatawan asing yang berbelanja di Indonesia. Angka-angka ini mengindikasikan memberi isyarat bahwa QRIS telah hadir untuk memberikan kemudahan yang ditawarkan QRIS memang menjawab kebutuhan masyarakat kemudahan bertransaksi yang semakin mobile dan lintas negara.

Namun, QRIS lintas negara tidak berdiri sebagai kebijakan yang terpisah. Ia merupakan bagian dari desain yang lebih besar, sebagaimana tertuang dalam Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030. Dalam kerangka ini, transformasi sistem pembayaran diarahkan pada dua pilar utama: inovasi dan internasionalisasi. QRIS berperan sebagai tulang punggung pembayaran ritel di dalam negeri, sekaligus menjadi jembatan yang menghubungkan Indonesia dengan ekosistem pembayaran regional dan global.

Perluasan QRIS lintas negara juga berjalan seiring dengan kebijakan Local Currency Transaction atau Local Currency Settlement. Dalam kerja sama Indonesia dan Korea Selatan, transaksi diselesaikan langsung dalam Rupiah dan Won. Pendekatan ini tidak hanya menekan biaya konversi, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada mata uang global serta memitigasi risiko fluktuasi nilai tukar. Bagi otoritas moneter, langkah ini bukan semata soal efisiensi teknis, melainkan bagian dari upaya memperkuat kedaulatan sistem pembayaran dan ketahanan ekonomi nasional.

Perkembangan QRIS lintas negara sendiri menunjukkan pendekatan yang konsisten. Inisiatif ini mula-mula dibangun di kawasan ASEAN, tempat konektivitas sosial dan ekonomi telah terjalin kuat, sebelum diperluas ke Jepang dan kini Korea Selatan. Pola tersebut memperlihatkan bahwa perluasan QRIS bukan semata mengejar jumlah negara mitra, melainkan memastikan kesiapan ekosistem serta manfaat nyata bagi pengguna. Dalam kerangka itu, Korea Selatan menandai fase penting, tidak hanya karena tingginya mobilitas wisata dan kedekatan budaya, tetapi juga karena dukungan transaksi mata uang lokal yang memperkuat ketahanan sistem pembayaran.

Dampak kebijakan ini tidak berhenti pada wisatawan. Bagi pelaku usaha, khususnya UMKM, kemudahan pembayaran lintas negara membuka peluang baru. Ketika wisatawan asing dapat bertransaksi dengan mudah, potensi belanja ikut meningkat. Ketika sistem pembayaran menjadi lebih efisien dan berbiaya rendah, hambatan untuk menjangkau pasar global pun perlahan menyempit. UMKM tidak lagi harus memahami berbagai sistem pembayaran asing, melainkan cukup satu QR, satu standar, dan satu koneksi.

Meski demikian, percepatan digital selalu datang bersama tantangan. Meningkatnya transaksi non-tunai juga membawa risiko, mulai dari penipuan hingga penyalahgunaan kode QR. Karena itu, penguatan literasi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari inovasi. Bank Indonesia terus mendorong perlindungan konsumen melalui pendekatan PEKA yaitu Peduli, Kenali, dan Adukan, agar masyarakat tidak hanya melek digital, tetapi juga cakap dan waspada dalam bertransaksi.

Kembali ke cerita di Myeongdong, satu kali pindai QR mungkin terlihat sepele. Namun di baliknya terdapat proses kebijakan yang panjang, kolaborasi lintas bank sentral, serta visi membangun sistem pembayaran yang efisien, inklusif, dan berdaulat. QRIS lintas negara bukan sekadar alat bayar, melainkan cerminan bagaimana kebijakan ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Ketika inovasi teknologi berjalan seiring dengan kerangka kebijakan yang kuat, dimulai dari QRIS hingga Local Currency Transaction, Indonesia tidak sekadar mengikuti arus digitalisasi global, tetapi ikut membentuknya. Dari Myeongdong hingga kampung halaman, dari transaksi kecil hingga strategi besar, QRIS menunjukkan bahwa lompatan besar kerap berawal dari sesuatu yang digenggam di tangan.  (*)

Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan instansi/organisasi manapun.

 

Sumber: