Tembus Pasar Dunia, Kopi Java Buana Ciremai Bangkit dari Trauma Tanam Paksa
PETIK MERAH. Rasa dan aroma Kopi Java Buana Ciremai yang khas diperoleh dari standar ketat, salah satunya petik merah. Kepala KPw BI Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis, menunjukan butir kopi siap panen. FOTO : SUWANDI/RAKYAT CIREBON--
KUNINGAN - Udara sejuk khas dataran tinggi menyelimuti kawasan lereng Gunung Ciremai, Desa Puncak, Kecamatan Cigugur, Kuningan, Kamis (10/9/2026). Pagi itu, di antara hamparan hijau vegetasi, deretan pohon kopi berdiri kokoh dengan butir-butir bulat mungil berwarna merah ranum siap dipetik. Dari titik ini, si hitam pahit mengulang masa kejayaannya.
Ya, di balik aroma seduhan kopi yang menyeruak dari punggung gunung tertinggi Jawa Barat ini, ada cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar cangkir pemicu gelora di kala fajar. Cerita itu dikisahkan Taufik Hernawan, Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Buana Ciremai, saat membersamai para jurnalis dalam sesi Media Gatheting Bank Indonesia Cirebon di Kuningan.
Taufik membedah tragedi kelam ratusan tahun silam, revolusi pola pikir petani, hingga geliat pasar kopi lokal menuju panggung internasional. Ia yakin, sudah saatnya, kopi yang diindentifikasi sebagai Java Buana Ciremai bakal kembali bertahta di pentas dunia.
Taufik mengulas, pohon kopi perdana menancapkan akarnya di wilayah Kuningan sekitar tahun 1852 M. Kala itu, rezim kolonial Hindia Belanda menerapkan aturan sistem tanam paksa (cultuurstelsel) di zona kekuasaan Keresidenan Cirebon.
"Kita punya sejarah yang cukup kelam di Kuningan. Sistem cultuurstelsel atau tanam paksa pernah berkobar di sini. Salah satu korban petani paling banyak berada di Kabupaten Kuningan," ujar Taufik, Kamis (10/9/2026).
Belanda mengeruk keuntungan luar biasa hingga menjadi salah satu negara paling tajir di daratan Eropa dari lelang kopi. Mereka mengangkut green bean (biji kopi kering mentah) dari wilayah Kuningan, Subang, Dharma, Luragung, Cimus, hingga Cikukur menuju Pelabuhan Cirebon sebelum berlayar mengarungi samudra menuju Negeri Kincir Angin.
Saat itu, kopi lokal mencapai puncak kejayaan dan amat mashur di Benua Biru. Namun eksploitasi tanam paksa yang berlangsung selama 150 tahun itu justru memiskinkan warga pribumi. Hingga kemerdekaan diraih pada 1945 M, masyarakat hanya diwarisi bekas perkebunan tua.
"Saya berasumsi di sini banyak kebun kopi dan kopi Kuningan muncul lagi itu bukan kebetulan. Berarti orang Kuningan ini banyak yang merupakan keturunan petani kopi," tutur pria paru baya itu.
Meruntuhkan Trauma Masa Lalu dan Bayang-bayang Kota Besar
Meski meninggalkan trauma mendalam, tanam paksa vegetasi kopi era kolonial membuktikan bahwa kopi Kuningan sama bernilainya dengan komoditas lain di mata dunia. Peminatnya banyak, pasarnya luas. Potensi ini diendus sebagai peluang emas. Eranya berubah, kopinya tetap sama.
Taufik menambahkan, di tengah melimpahnya potensi kopi, griliya membangkitkan komoditas ini dihadapkan pada tantangan baru, bukan lagi tanam paksa era Belanda, melainkan pola pikir konvensional petani. Budaya bertani kopi belum sepenuhnya dipandang sebagai sektor industri yang menjanjikan.
"Akibat pandangan tradisional bahwa bertani di kampung itu kuno dan tidak keren, generasi muda di pedesaan sempat kehilangan minat. Banyak dari mereka memilih mengadu nasib ke kota besar seperti Jakarta," imbuh Taufik.
Lahan perkebunan warisan nenek moyang banyak yang terbengkalai, bahkan ada yang nyaris musnah. Fenomena pasang surut ini mencapai klimaksnya sekitar tahun 2015, saat itu perhatian masyarakat terhadap potensi kopi lokal berada pada titik terendah.
Sumber: